Editorial:
Musyawarah Provinsi Kadin Provinsi Gorontalo telah usai. Andi Ilham keluar sebagai pemenang dengan 29 suara, Fauzan Muhammad menyusul dengan 24 suara, dan satu suara dinyatakan rusak. Bagi sebagian orang, hasil itu mungkin hanya catatan kecil dalam dinamika organisasi. Namun bagi Pendukung Fauzan Muhammad, angka 24 itu bukan sekadar kekalahan tipis. Itulah babak awal karir politiknya di Gorontalo,sebuah debut Perdana yang berhasil membuat banyak orang menoleh dan terkejut.
Sebelum Musprov Kadin, nama Fauzan Muhammad nyaris tidak pernah menjadi pembicaraan serius di ruang publik Gorontalo. Ia masih sangat muda. Ia belum pernah mengikuti kompetisi politik di Gorontalo. Namanya tidak diperhitungkan. Dalam banyak perbincangan awal, Fauzan dianggap sekadar pelengkap, bukan penantang. Latar belakangnya sebagai anak Fadel Muhammad memang memberi warna, tetapi itu saja tidak cukup untuk membuat orang percaya bahwa ia mampu mengumpulkan suara signifikan. Apalagi Kadin bukan organisasi sembarangan. Di dalamnya ada pengusaha, tokoh, dan jaringan kepentingan yang telah lama terbangun.
Namun hasil Musprov v Gorontalo berbicara lain. Fauzan tidak terpilih, tetapi ia meraih 24 suara. Dalam pemilihan internal yang jumlah pemilihnya terbatas, tertutup, dan hanya diikuti oleh 54 suara,atau puluhan orang, angka 24 bukan angka kecil. Ia tidak menang, tetapi ia bukan pecundang. Ia kalah tipis dari Andi Ilham yang meraih 29 suara. Selisih lima suara di panggung yang sebelumnya tidak ia kuasai adalah capaian yang luar biasa. Fauzan Baru kali ini ikut kontestasi pemilihan sedangkan Andi Ilham sudah pernah ikut pemilihan pilkada kota Gorontalo.
Masyarakat Gorontalo pun dibuat kaget Oleh Fauzan. Ternyata, anak muda yang jarang dibahas itu bukan kaleng-kaleng.
Ada satu hal yang membuat hasil ini semakin menarik. Fauzan tidak melakukan konsolidasi sejak awal. Ia tidak membangun mesin organisasi jauh sebelum kompetisi. Ia tidak melakukan lobi-lobi habis-habisan seperti yang dilakukan saingannya. Ia juga tidak memiliki pengalaman bertarung di kompetisi politik lokal. Sementara lawannya sudah bergerak lebih dulu, dengan modal, logistik, dan pendekatan yang intens. Dalam kondisi seperti itu, 24 suara adalah bukti bahwa Fauzan memiliki magnet tersendiri. Ia bukan hanya nama yang menempel pada popularitas orang lain. Ia mulai menunjukkan bahwa dirinya layak diperhitungkan.
Tentu, kita tidak boleh membaca Musprov Kadin sebagai pilkada. Kadin bukan partai politik. Kadin tidak bisa memenangkan kontestasi elektoral. Kadin tidak mampu menjadi mesin politik saat pilkada atau pileg. Orientasi Kadin adalah wirausaha, perdagangan, dan kemitraan dengan pemerintah. Namun justru karena itu, capaian Fauzan menjadi menarik. Ia tidak sedang bertarung memperebutkan kursi kekuasaan. Ia sedang memasuki ruang organisasi yang menuntut kapasitas, jaringan, dan kepercayaan. Dan di ruang itu, ia sudah mendapat 24 kepercayaan. Itu adalah modal awal yang sangat berharga.
Dalam bahasa sehari-hari orang Gorontalo, capaian Fauzan ini seperti “ba spot jantung kawan, beking lawan ta kincing-kincing.” Membuat jantung berdebar, membuat orang ketar-ketir. Bukan karena Fauzan menang, tetapi karena ia hampir menang di panggung yang bukan miliknya. Lawan-lawan politiknya mungkin merasa aman sebelum Musprov. Mereka mungkin menganggap Fauzan hanya pelengkap. Namun setelah suara dibuka, mereka sadar bahwa anak muda ini bukan sosok yang bisa diremehkan. Debut perdananya langsung membuat panik dan jantungan. Itu adalah hal yang luar biasa.
Masa depan Fauzan Muhammad masih sangat panjang. Ia masih muda, masih dalam tahap pembelajaran, dan belum banyak berpengalaman. Tetapi justru di situlah kekuatannya. Ia memiliki ruang untuk tumbuh. Ia memiliki waktu untuk membangun jaringan. Ia memiliki modal politik yang tidak dimiliki banyak orang seusianya, nama, akses, dan sekarang, legitimasi awal dari sebuah kompetisi internal yang cukup ketat. Jika ia mampu mengelola modal ini dengan baik,belajar, mendengar, berkonsolidasi, dan menjaga integritas,bukan tidak mungkin ia menjadi kekuatan baru di Gorontalo.
Fauzan Muhammad telah memasuki babak awal karir politiknya di Gorontalo. Ia tidak terpilih sebagai Ketua Kadin, tetapi ia berhasil membuat publik bertanya: siapa sebenarnya Fauzan Muhammad? Mengapa ia bisa mendapat 24 suara? Dan apa yang akan ia lakukan berikutnya? Pertanyaan-pertanyaan itu adalah tanda bahwa ia telah masuk ke radar. Debut perdananya luar biasa. Masa depannya masih panjang. Dan jika ia terus belajar, 24 suara di Musprov Kadin bisa menjadi awal dari perjalanan politik yang jauh lebih besar di Gorontalo.