Editorial:
Pinogu, Gorontalo – Ekspedisi menembus rimba Pinogu Yg lebat dan Ekstrem bukan hanya menjadi catatan sejarah bagi Gubernur Gorontalo, Dr. Gusnar Ismail,tapi juga bagi Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Gorontalo, Sultan Kalupe,yang turut serta dalam perjalanan penuh tantangan itu.

Kehadirannya memberi isyarat jelas, Pinogu bukan sekadar wilayah terisolir yang perlu dibuka aksesnya, melainkan juga menyimpan potensi besar yang layak dikembangkan, terutama di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Perjalanan menuju Kecamatan Pinogu, Kabupaten Bone Bolango, memang bukan perkara mudah. Rombongan harus melewati dan menyusuri hutan rimba yang masih alami dan indah. Jalan terjal, sempit, becek, serta tanjakan curam menjadi tantangan yang harus dilalui.
Namun di balik beratnya medan itu tersimpan pesona yang jarang ditemui. Hutan Pinogu yg berada di Kawasan Taman Nasional Bigani Naniwartabone itu masih alami dan Terjaga, udara segar, dan suara alam menjadi teman sepanjang perjalanan.
Bagi Sultan Kalupe, kondisi itu justru menjadi cermin bahwa Pinogu memiliki daya tarik eko wisata yang luar biasa.
Sebagai kepala dinas yang membidangi pariwisata dan ekonomi kreatif, Sultan Kalupe melihat langsung bagaimana kekayaan alam Pinogu dapat menjadi magnet bagi wisatawan. Ekowisata alam menjadi salah satu opsi utama. Hutan rimba yang masih alami, sungai-sungai jernih, serta bentang alam perbukitan dan satwa satwa endemik Sulawesi menjadi modal yang tidak dimiliki banyak daerah lain. Wisata minat khusus seperti trekking, camping, bird watching,wikdlife dan penjelajahan alam bisa dikembangkan tanpa harus merusak ekosistem.
Tidak hanya alam, budaya masyarakat Pinogu juga menyimpan pesona tersendiri. Tradisi, adat istiadat, serta cara hidup warga yang masih kental dengan Budaya Gorontalo menjadi daya tarik wisata budaya. Desa Pinogu seperti ruang hidup yang masih menjaga kearifan lokal, tempat wisatawan dapat belajar tentang kehidupan agraris, ritual adat, dan kearifan lingkungan.
budaya adalah aset yang tidak ternilai dan harus dikemas dengan bijak agar tetap lestari sekaligus memberi manfaat ekonomi.
Sektor pertanian menjadi pintu masuk bagi pengembangan ekonomi kreatif. Pinogu dikenal memiliki komoditas unggulan seperti kopi dan kakao. Kedua komoditas ini bukan hanya sekadar hasil bumi, tetapi bisa diolah menjadi produk bernilai tambah. Kopi Pinogu, misalnya, dapat dikembangkan menjadi kopi specialty dengan branding khas daerah. Begitu pula kakao, yang bisa diolah menjadi cokelat artisan, produk olahan, hingga suvenir wisata. Dengan pendekatan ekonomi kreatif, petani tidak hanya menjual biji mentah, tetapi juga bisa menikmati nilai tambah dari pengolahan dan pemasaran yang lebih baik.
pengembangan ekowisata, budaya, dan ekonomi kreatif di Pinogu harus berjalan seiring dengan pembangunan infrastruktur. Rencana Gubernur Gusnar Ismail untuk membangun jalan motor sepanjang 41 kilometer dari Desa Tulabolo, Suwawa, menuju Pinogu menjadi kunci pembuka. Tanpa akses yang memadai, potensi wisata dan ekonomi kreatif akan sulit berkembang. Sebaliknya, dengan jalan yang lebih baik, wisatawan dapat lebih mudah datang, hasil pertanian dapat lebih cepat diangkut, dan roda ekonomi warga akan berputar lebih cepat.
Kehadiran Sultan Kalupe dalam ekspedisi ini juga menjadi penegas bahwa pembangunan pariwisata tidak bisa berdiri sendiri. Ia harus terintegrasi dengan sektor pertanian, pendidikan, kesehatan, dan pelestarian lingkungan. Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif akan berperan dalam menyusun strategi pengembangan, mulai dari promosi, pembinaan pelaku usaha kreatif, hingga penataan destinasi wisata yang berkelanjutan. Pinogu diharapkan tidak hanya menjadi daerah yang terbuka aksesnya, tetapi juga menjadi destinasi yang mampu menarik kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara.
Dalam kunjungan tersebut, Gubernur Gusnar bersama rombongan juga meninjau SMAN 1 Pinogu, menyerahkan bantuan pangan, menghadiri Maulid Nabi, dan menanam pohon. Semua kegiatan itu menjadi bagian dari upaya membangun Pinogu secara menyeluruh. Sultan Kalupe menyaksikan sendiri bagaimana warga menyambut dengan hangat, bagaimana guru dan tenaga kesehatan berjuang di keterbatasan, dan bagaimana alam Pinogu menyimpan janji yang belum sepenuhnya tergarap.
ekspedisi ini bukan sekadar perjalanan dinas. Ia menjadi semacam riset lapangan untuk melihat peluang dan tantangan pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif di wilayah terisolir. Dari balik terjalnya rimba, ia menemukan bahwa Pinogu memiliki segalanya: alam yang indah, budaya yang kaya, dan hasil bumi yang bernilai. Yang dibutuhkan adalah keberpihakan, perencanaan yang matang, dan kolaborasi lintas sektor.
Ke depan, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif diharapkan dapat bersinergi dengan berbagai pihak untuk mengangkat Pinogu sebagai destinasi ekowisata unggulan Gorontalo. Pengembangan homestay warga, paket wisata berbasis komunitas, pelatihan pengolahan kopi dan kakao, serta promosi digital menjadi beberapa langkah yang bisa segera dilakukan. Dengan demikian, kunjungan Gubernur Gusnar dan ekspedisi Sultan Kalupe tidak berhenti sebagai cerita perjalanan, tetapi menjadi titik awal kebangkitan Pinogu.
Di ujung timur Gorontalo, di balik hutan rimba yang masih alami dan indah, tersimpan harapan besar. Pinogu menanti sentuhan pembangunan yang tidak hanya membuka jalan, tetapi juga membuka peluang. Dan melalui ekspedisi ini, Sultan Kalupe telah melihat sendiri bahwa potensi itu nyata. Kini saatnya merangkai langkah agar Pinogu dikenal, dikunjungi, dan dinikmati, tanpa kehilangan jati dirinya sebagai kampung yang kaya alam, budaya, dan karya.