AIR MATA DEMAK,CAHAYA DARI PESISIR
Novel Fiksi,Cerpen,oleh: dulwahab.
Glagahwangi-Demak 1475
Raden Patah,Sultan Demak Pertama tidak dapat tidur.Malam telah jauh melewati tengahnya, tetapi matanya masih terbuka. Ia berbaring di atas tikar pandan di dalam pondok kecil yang dindingnya terbuat dari bambu dan beratapkan rumbia. Lantainya tanah. Di sudut ruangan, sebuah pelita minyak menyala kecil, cahayanya bergetar setiap kali angin menyusup melalui celah dinding.
Pondok itu sederhana.
Namun malam itu, kesederhanaan terasa seperti ruang yang terlalu sempit bagi pikirannya.
Langit-langit terasa rendah. Udara terasa berat. Bahkan suara jangkrik di halaman seperti datang dari tempat yang jauh.
Akhirnya ia bangkit.Ia membuka pintu.Udara malam menyentuh wajahnya.
Di luar, Glagahwangi tertidur dalam keheningan.
Hutan berdiri seperti bayang-bayang raksasa. Gelagah bergerak perlahan. Daun-daun bambu saling bergesekan, mengeluarkan bunyi seperti bisikan orang-orang tua yang sedang membicarakan sesuatu yang tak boleh didengar sembarang telinga.
Raden Patah mengangkat wajah.Langit hitam membentang tanpa batas.Tetapi hitam itu bukan kekosongan.Ia penuh.Penuh bintang.Penuh cahaya.Penuh rahasia yang belum diberi nama.
Bintang-bintang berkelip seperti mata yang tidak pernah tidur. Seperti ribuan titik kesadaran yang mengawasi bumi. Atau mungkin seperti zikir yang dilantunkan alam sejak sebelum manusia mengenal bahasa.
Di ufuk barat, bulan sabit menggantung tipis.Pucat.Hampir seperti senyum seorang ibu yang menahan rindu.Hampir seperti bisikan seorang guru yang belum selesai menyampaikan wasiat.Hampir seperti sebilah pedang yang masih tersimpan di balik sarungnya.
Raden Patah menunduk.Ia melihat kedua tangannya.Tangan seorang lelaki muda.Tangan yang selama ini hanya mengenal pekerjaan sederhana: menebas gelagah, menggemburkan tanah, mengangkat kayu, membuka jalan.Tangan yang sesekali memegang kitab.Tangan yang menengadah ketika berdoa.
Belum ada mahkota di sana.Belum ada kekuasaan.Belum ada kerajaan.Hanya garis-garis kehidupan yang belum selesai ditulis.
Ia menggenggam jemarinya.
“Ya Allah ya Tuhanku…” bisiknya.
Suaranya hampir lenyap ditelan malam.
“Apa yang Engkau kehendaki dariku?”
Tidak ada jawaban.
Tidak ada suara dari langit.
Tidak ada tanda dari bumi.
Hanya angin.
Hanya bintang.
Hanya diam.
Tetapi barangkali, pikirnya, diam bukan berarti tidak ada jawaban.
Barangkali manusia terlalu gaduh untuk mendengarnya.
Raden Patah berjalan meninggalkan pondok.
Ia menuju tepian hutan, ke sebuah batu besar yang selama ini dianggap keramat oleh orang-orang Glagahwangi.
Batu punden.
Batu tua yang telah lama berada di sana, bahkan sebelum ia mengenal tempat itu sebagai rumah.
Konon, Syekh Maulana Maghribi pernah duduk di atas batu tersebut ketika pertama kali datang ke tanah ini.
Raden Patah duduk.Batu itu dingin.Keras.Tua.
Namun entah mengapa, malam itu ia merasakan kehangatan yang aneh dari permukaannya.
Bukan panas batu.Bukan panas tubuh.Seperti sisa doa.
Seperti bekas tapak orang-orang yang pernah bersujud.
Seperti ingatan yang disimpan bumi.
Raden Patah menutup mata.Ia menarik napas perlahan.Kemudian ia berzikir.
La ilaha illallah.
Sekali.
La ilaha illallah.
Dua kali.
La ilaha illallah.
Dan untuk ketiga kalinya, ia merasa seluruh dirinya perlahan tenggelam ke dalam satu kalimat itu.
Tidak ada kerajaan.
Tidak ada darah.
Tidak ada nama.
Tidak ada masa lalu.
Tidak ada masa depan.
Hanya seorang hamba dan Tuhannya.
SUARA DARI LAUT
Tiba-tiba angin berhenti.
Raden Patah membuka mata.
Keheningan berubah.
Bukan menjadi sunyi.
Melainkan menjadi sesuatu yang lebih dalam daripada sunyi.
Daun-daun berhenti bergerak.
Jangkrik seolah kehilangan suaranya.
Bahkan napasnya sendiri terasa seperti ditahan oleh sesuatu yang tidak terlihat.
Raden Patah berdiri.
Ia memandang langit.
Dan saat itulah sesuatu yang tak pernah ia bayangkan terjadi.
Langit berubah.
Hitam perlahan surut.
Bintang-bintang seakan larut ke dalam warna biru yang luas.
Biru.
Dalam.
Bening.
Seperti laut.
Tetapi bukan laut yang ia kenal.
Di hadapannya terbentang samudra di atas langit.
Laut tanpa pantai.
Laut tanpa tepian.
Laut yang menggantung di antara bumi dan cahaya.
Permukaannya tenang.
Namun dari kedalamannya memancar cahaya yang tidak berasal dari matahari.
Raden Patah terpaku.
Ia merasa sedang memandang sesuatu yang sekaligus jauh dan dekat.
Sesuatu yang pernah dikenalnya sebelum ia dilahirkan.
“Apa ini…?”
Tak ada suara yang menjawab.
Tetapi laut itu bergerak.
Perlahan.
Seperti seseorang yang sedang membuka pintu.
Dari kedalamannya muncul cahaya putih.
Cahaya itu naik.
Meninggi.
Kemudian berhenti di hadapan Raden Patah.
Dan dari cahaya itu, sesuatu perlahan mengambil bentuk.
Sesuatu yang panjang.
Bercahaya.
Tajam.
Sebuah pedang.
PEDANG DARI LANGIT
Pedang itu turun perlahan.
Tidak jatuh.
Tidak dilempar.
Ia seperti diturunkan oleh tangan yang tidak terlihat.
Bilahnya memancarkan cahaya keemasan. Dua ujungnya terbelah seperti dua jalan yang berasal dari satu kehendak.
Raden Patah mengenal bentuk itu.
Jantungnya berdegup keras.
Zulfikar.
Nama itu muncul di dalam pikirannya sebelum bibirnya mengucapkannya.
Pedang yang dalam tradisi Islam dikenang sebagai pedang Ali bin Abi Thalib.
Pedang yang kemudian hidup dalam ingatan umat sebagai lambang keberanian, ilmu, kesetiaan, dan pembelaan terhadap kebenaran.
Tetapi malam itu Raden Patah memahami sesuatu yang berbeda.
Pedang bukanlah kekuasaan.
Pedang adalah ujian bagi tangan yang menggenggamnya.
Zulfikar berhenti tepat di hadapannya.
Mengambang.
Diam.
Menunggu.
Raden Patah tidak segera mengulurkan tangan.
Ia hanya memandang.
“Apa yang kau kehendaki dariku?”
Pertanyaan itu sebenarnya bukan ditujukan kepada pedang.
Ia ditujukan kepada dirinya sendiri.
Kemudian ia mendengar suara di dalam hatinya:
Jika kau menggenggam pedang, apakah kau mampu melepaskan kesombonganmu?
Raden Patah terdiam.
Ia mengerti.
Setiap senjata dapat membunuh.
Tetapi hanya manusia yang menentukan untuk apa ia menghunusnya.
Perlahan ia mengangkat tangan.
Jemarinya menyentuh gagang Zulfikar.
Pada saat itulah—
dunia bergetar.
SUARA YANG MENGGETARKAN LANGIT
Langit bergetar.
Bumi bergetar.
Hutan bergetar.
Gelagah bergoyang tanpa angin.
Batu punden bergetar di bawah telapak kakinya.
Dan dari kejauhan terdengar suara seperti laut yang sedang mengucapkan sesuatu dalam bahasa yang hanya dapat dipahami oleh jiwa.
Kemudian sebuah suara terdengar.
Dalam.
Berat.
Namun tidak menakutkan.
Suara itu seperti guntur yang memiliki kesadaran.
Seperti gunung yang berbicara.
Seperti samudra yang sedang berdoa.
“Raden Patah.”
Ia membeku.
“Raden Patah.”
Air mata tiba-tiba mengalir di pipinya.
“Anak Champa.”
Suara itu bergema.
“Anak Majapahit.”
Kemudian lebih dalam:
“Anak dari perjalanan panjang manusia yang dipertemukan oleh laut.”
Raden Patah menunduk.
Ia merasa seluruh sejarah hidupnya sedang berdiri di belakangnya.
Darah.
Tanah.
Laut.
Perjalanan.
Perpisahan.
Pertemuan.
Dan doa orang-orang yang tidak pernah dikenalnya.
“Kau bukan sekadar pewaris darah,” suara itu berkata.
“Kau adalah pewaris amanah.”
Raden Patah berlutut.
Zulfikar tetap berada di tangannya.
“Kau akan berdiri di antara dua dunia,” suara itu melanjutkan.
“Antara masa lalu dan masa depan.”
“Antara kekuasaan dan kerendahan hati.”
“Antara pedang dan doa.”
“Antara manusia dan Tuhannya.”
Raden Patah menangis.
Bukan karena takut.
Melainkan karena untuk pertama kalinya ia merasa hidupnya bukan miliknya seorang.
“Tuhan…” bisiknya.
“Aku hanya hamba-Mu.”
Dan seketika itu juga ia memahami:
orang yang hendak memimpin manusia harus terlebih dahulu belajar tunduk kepada Tuhan.
WAJAH DARI CAHAYA
Cahaya di langit terbelah.
Dari dalamnya muncul sosok seorang lelaki.
Jubahnya putih.
Serbannya berwarna hijau.
Wajahnya tenang.
Tatapannya dalam.
Tidak ada kemegahan pada dirinya, tetapi justru karena itulah kehadirannya terasa agung.
Raden Patah menatap.
Nama itu bergetar di dalam dadanya.
Ali bin Abi Thalib.
Dalam penglihatan spiritualnya, sosok itu hadir bukan sebagai raja, bukan sebagai penguasa, melainkan sebagai lambang keberanian yang tunduk kepada kebenaran.
Raden Patah menundukkan kepala.
“Imam…”
Lelaki itu tersenyum.
“Jangan panggil aku demikian.”
Raden Patah mengangkat wajah.
“Lalu bagaimana aku memanggilmu?”
“Saudara.”
Satu kata.
Tetapi kata itu terasa lebih berat daripada seluruh kitab yang pernah dibacanya.
“Saudara?”
“Ya.”
Ali duduk di atas batu punden.
Seolah-olah antara tanah Nusantara dan langit yang jauh itu tidak pernah ada jarak.
“Kebenaran tidak mengenal jarak,” katanya.
“Laut dapat memisahkan tubuh manusia. Tetapi tidak dapat memisahkan cahaya yang telah ditanam Tuhan di dalam hati.”
Raden Patah menangis.
Ia tidak tahu apakah yang dilihatnya adalah sebuah mukjizat, mimpi, atau perjalanan batin yang tidak mungkin diterangkan kepada siapa pun.
Namun ia tahu satu hal:
malam itu ia tidak lagi sendirian.
DIALOG DI ANTARA DUA DUNIA
Ali memandangnya.
“Apa yang kau cari?”
Raden Patah menjawab tanpa berpikir.
“Kebenaran.”
Ali tersenyum.
“Kebenaran itu satu.”
Ia mengambil segenggam tanah di dekat batu.
“Namun manusia sering mengira bahwa karena jalannya berbeda, maka kebenarannya juga berbeda.”
Tanah itu jatuh perlahan dari tangannya.
“Padahal jalan hanyalah jalan.”
“Lalu bagaimana aku memilih jalan?”
“Dengan hati yang tidak diperbudak oleh dirinya sendiri.”
Raden Patah terdiam.
“Dan jalan apa yang harus kupilih?”
Ali memandangnya lama.
“Jalan cinta.”
“Cinta?”
“Cinta kepada Allah.”
“Cinta kepada Rasul-Nya.”
“Cinta kepada keluarga.”
“Cinta kepada guru.”
“Cinta kepada rakyat.”
“Dan cinta kepada tanah tempat Tuhan menitipkan langkahmu.”
Raden Patah menatap hutan.
Tanah yang selama ini dipijaknya tiba-tiba terasa berbeda.
Ia bukan sekadar tanah.
Ia adalah amanah.
Ia adalah rumah bagi manusia yang kelak akan dipimpinnya.
Kemudian pandangannya jatuh kepada Zulfikar.
“Saudara,” katanya, “mengapa pedang itu bermata dua?”
Ali menjawab:
“Karena kebenaran selalu menuntut dua keberanian.”
“Apa itu?”
“Keberanian untuk melawan kezaliman.”
Ali berhenti.
“Dan keberanian untuk melawan kezaliman yang bersembunyi di dalam dirimu sendiri.”
Raden Patah terdiam lama.
Kata-kata itu lebih tajam daripada pedang.
RAHASIA ZULFIKAR
“Apakah pedang ini akan membuatku kuat?”
Ali menggeleng.
“Tidak.”
“Lalu apa yang membuatku kuat?”
“Kesadaran bahwa kau tidak memiliki apa-apa.”
Raden Patah memandangnya.
Ali menunjuk Zulfikar.
“Pedang itu bukan milikmu.”
“Bukan?”
“Tidak.”
“Lalu milik siapa?”
“Allah.”
Ali menatap tajam ke dalam matanya.
“Manusia selalu ingin memiliki sesuatu agar merasa berkuasa. Tanah. Harta. Senjata. Takhta. Bahkan manusia lain.”
Ia menunjuk pedang itu.
“Padahal segala sesuatu yang berada di tanganmu hanya sedang dititipkan kepadamu.”
Raden Patah menggenggam Zulfikar lebih erat.
“Jadi aku hanya penjaga?”
“Ya.”
“Pemegang amanah?”
“Ya.”
“Bukan pemilik?”
“Tidak pernah.”
Raden Patah menundukkan kepala.
Kini ia mengerti rahasia pedang itu.
Bukan ketajamannya.
Bukan cahayanya.
Melainkan ketiadaan hak untuk menyombongkan diri karena memilikinya.
“Dan mengapa ia disebut pedang cinta?”
Ali tersenyum.
“Karena cinta kepada kebenaran membuat tangan tidak gemetar.”
“Cinta kepada manusia membuat mata tidak buta.”
“Cinta kepada Tuhan membuat hati tidak takut.”
Raden Patah memandang Zulfikar.
Pedang itu tidak lagi tampak seperti senjata.
Ia tampak seperti cermin.
Dan di dalam bilahnya, ia melihat dirinya sendiri.
Seorang manusia.
Dengan ketakutan.
Dengan ambisi.
Dengan kelemahan.
Dengan doa.
TUJUH WASIAT
Ali berdiri.
“Raden Patah.”
“Aku mendengarkan.”
“Aku akan meninggalkan tujuh wasiat.”
Raden Patah menundukkan kepala.
“Pertama.”
“Jangan pernah menyembah selain Allah.”
“Jangan menyembah berhala.”
“Jangan menyembah manusia.”
“Dan jangan menjadikan dirimu sendiri sebagai berhala.”
Raden Patah mengangguk.
“Kedua.”
“Hormatilah orang tuamu.”
“Hormati gurumu.”
“Hormati mereka yang lebih dahulu berjalan sebelum engkau.”
“Karena manusia yang lupa dari mana ia berasal akan kehilangan arah ketika berjalan.”
“Ketiga.”
“Cintailah keluargamu.”
“Namun jangan biarkan kecintaan kepada keluargamu membuatmu tidak adil kepada orang lain.”
“Keempat.”
“Berbuat adillah.”
Ali memandangnya tajam.
“Jangan menimbang manusia berdasarkan darahnya.”
“Jangan menimbang manusia berdasarkan hartanya.”
“Jangan menimbang manusia berdasarkan kedudukannya.”
“Di hadapan Tuhan, kemuliaan manusia bukan pada apa yang ia miliki, melainkan pada apa yang ia lakukan dengan amanah yang diberikan kepadanya.”
“Kelima.”
“Jangan takut kepada manusia.”
“Takutlah kepada ketidakadilan yang mungkin lahir dari tanganmu sendiri.”
“Keenam.”
“Bersedialah berkorban.”
“Namun ingat: pengorbanan bukan alasan untuk membenci.”
“Orang yang berkorban demi kebenaran tidak boleh kehilangan kasih kepada manusia.”
“Ketujuh.”
“Jangan pernah berhenti berdoa.”
Ali menatap langit.
“Karena ketika kekuasaanmu habis, doa masih mempunyai jalan.”
“Ketika pasukanmu pergi, doa masih tinggal.”
“Ketika tubuhmu lemah, doa masih dapat mengangkatmu.”
Raden Patah meneteskan air mata.
“Aku akan mengingat semuanya.”
Ali tersenyum.
“Jangan hanya mengingatnya.”
“Jalankan.”
PEDANG YANG MENYALA
Cahaya di sekitar mereka mulai berubah.
Raden Patah tahu pertemuan itu tidak akan berlangsung selamanya.
“Engkau akan menghadapi ujian,” kata Ali.
“Pengkhianatan.”
“Perpecahan.”
“Perang.”
“Dan kehilangan.”
Raden Patah menarik napas.
“Aku siap.”
Ali tertawa kecil.
“Tidak.”
Raden Patah terdiam.
“Kau belum siap.”
Ali menatapnya dengan lembut.
“Tetapi engkau akan belajar.”
Ia menatap Zulfikar.
“Jangan berharap pedang menyelamatkanmu dari semua penderitaan.”
“Lalu untuk apa ia diberikan kepadaku?”
“Untuk mengingatkanmu bahwa setiap keputusan memiliki harga.”
Ali mendekat.
“Pedang ini akan menyala bukan ketika engkau marah.”
“Bukan ketika engkau haus kekuasaan.”
“Bukan ketika engkau ingin membalas dendam.”
“Lalu kapan?”
“Ketika hatimu cukup jernih untuk membedakan keberanian dari kesombongan.”
Raden Patah memejamkan mata.
Ketika ia membukanya kembali, cahaya Zulfikar semakin terang.
Ali tersenyum.
“Pergilah.”
Raden Patah menunduk.
“Terima kasih, saudara.”
Ali mengangguk.
“Jangan pernah lupa.”
“Apa?”
“Seorang pemimpin yang paling tinggi kedudukannya adalah orang yang paling dalam sujudnya.”
Kemudian cahaya menyelimuti tubuhnya.
Sosok Ali perlahan memudar.
Bukan seperti seseorang yang pergi.
Melainkan seperti cahaya yang kembali kepada sumbernya.
Langit kembali hitam.
Bintang-bintang muncul.
Bulan kembali menggantung.
Angin kembali bertiup.
Jangkrik kembali bernyanyi.
Hutan kembali menjadi hutan.
Dan batu punden kembali menjadi batu.
Tetapi Raden Patah tidak lagi menjadi lelaki yang sama.
FAJAR DI GLAGAHWANGI
Fajar datang perlahan.
Pertama-tama langit menjadi kelabu.
Kemudian biru.
Kemudian merah tipis.
Dan akhirnya matahari muncul dari ufuk timur.
Cahayanya menyentuh pucuk-pucuk pohon.
Menyentuh gelagah.
Menyentuh atap-atap rumah.
Menyentuh masjid.
Menyentuh tanah.
Dan akhirnya menyentuh wajah Raden Patah.
Ia berdiri di depan pondok.
Zulfikar berada di tangannya.
Namun kini ia tidak menggenggamnya seperti seorang pemilik.
Ia menggenggamnya seperti seorang penjaga.
Ia memandang pedang itu lama.
Di dalam kilauannya ia seakan melihat laut.
Laut yang selama berabad-abad telah membawa manusia dari satu pantai ke pantai lain.
Laut yang membawa barang dagangan.
Bahasa.
Cerita.
Kitab.
Ilmu.
Doa.
Dan keyakinan.
Laut yang tidak pernah benar-benar memisahkan manusia.
Justru menghubungkan mereka.
Raden Patah mengangkat wajah kepada matahari.
“Bismillahirrahmanirrahim.”
Suaranya tenang.
“Jika suatu hari aku memiliki kekuasaan, jangan biarkan kekuasaan memiliki diriku.”
Ia memandang Zulfikar.
“Jika suatu hari aku memiliki kerajaan, jangan biarkan kerajaan menjadikan hatiku sempit.”
Ia menarik napas.
“Dan jika suatu hari pedang ini harus terhunus, biarlah ia terhunus bukan karena amarahku.”
Ia menatap langit.
“Melainkan karena keadilan.”
Kemudian ia berjalan.
Satu langkah.
Lalu satu lagi.
Tidak ada sorak.
Tidak ada pasukan.
Tidak ada mahkota.
Hanya seorang lelaki yang berjalan menuju masa depan yang belum diketahui.
Di belakangnya, Glagahwangi perlahan bangun.
Di depannya, sejarah menunggu.
Dan di tangannya—
Zulfikar menyala.
Bukan seperti api yang hendak membakar dunia.
Melainkan seperti cahaya yang menunjukkan jalan di dalam kegelapan.
Di tempat yang tak dapat dijangkau mata manusia, cahaya itu masih menyimpan sebuah suara.
Pergilah, anakku.
Jangan menjadi penguasa yang meminta manusia tunduk kepadamu.
Jadilah hamba yang membuat keadilan berdiri di hadapan mereka.
Pergilah.
Dan jadilah cahaya.
Raden Patah terus berjalan.
Ia tidak menoleh.
Bukan karena ia melupakan masa lalu.
Melainkan karena ia telah berdamai dengannya.
Di kejauhan, matahari semakin tinggi.
Dan di antara kabut pagi, hutan, gelagah, tanah, dan suara burung-burung yang menyambut hari baru—
sebuah perjalanan besar Nusantara mulai menemukan jalannya.
Laut akan menyala.
BERSAMBUNG…