Opini: Dulwahab (jurnalis Sejarah).
Ketika kita menelusuri akar peradaban Hindu-Buddha, narasi yang lazim berpusat pada lembah Sungai Gangga dan pergulatan filosofis di anak benua India. Namun, sejarah antropologi dan arkeologi menyingkap lapisan yang lebih dalam: sebuah jalinan panjang yang menghubungkan anak benua dengan dataran tinggi Iran, dan di antara keduanya berdiri warisan Indo-Iran yang sama. Melalui kacamata lintas disiplin, kita dapat melihat bagaimana Persia kuno—bukan sebagai penakluk spiritual, melainkan sebagai jembatan budaya—berperan sebagai katalis dalam pembentukan Hindu, Buddha, dan bahkan bahasa Sanskerta itu sendiri.
Akar Indo-Iran (Arya): Fondasi yang Dibagi Bersama
Sejarah agama di India dan Persia tidak dapat dipisahkan dari masa Indo-Iran, sebuah periode ketika kedua bangsa ini merupakan satu kesatuan linguistik dan kultural. Sejarawan mencatat bahwa agama Persia kuno dan India kuno berasal dari sumber yang sama, yaitu ide dan praktik yang dibagikan oleh cabang Iran dan Hindu dari keluarga Arya asli. Kesamaan ini terpampang jelas dalam naskah suci Rig Veda dan Avesta: asura sejajar dengan ahura, soma dengan haoma, yajna dengan yasna, serta Mitra dengan Mithra.
Antropologi linguistik mengungkap bahwa kekerabatan ini bukan kebetulan, melainkan bukti migrasi dan interaksi yang intensif. Pada milenium kedua SM, terdapat kesepakatan yang erat antara bahasa dan mitologi, tradisi keagamaan, serta institusi sosial bangsa India dan Iran. Kedua tradisi ini—Vedisme dan Zoroastrianisme—pada awalnya tidak terpisah, melainkan satu dalam kepercayaan bangsa Indo-Iran. Dari rahim yang sama inilah lahir dua cabang besar yang kemudian berkembang menjadi Hindu dan Zoroastrianisme.
Pengaruh Persia pada Hinduisme: Bayangan Ahura Mazda dalam Panteon Veda
Pengaruh Persia pada Hinduisme tidak selalu bersifat langsung, melainkan seringkali berupa penyerapan konsep dan simbol. Salah satu contoh paling jelas adalah kultus matahari. Pemujaan Mithra sebagai dewa matahari dan perjanjian menyebar ke India, dan tradisi Surya sebagai dewa matahari yang disembah dengan ritual tertentu mendapat pengaruh dari kultus Mithra. Kata Sanskerta mihira (“matahari”) bahkan berasal dari bahasa Persia mihr (Iran Kuno mitra). Beberapa sumber menyebut adanya pendeta Maga dari Persia yang berperan dalam pemujaan Surya di India.
Lebih jauh, konsep ketuhanan yang personal, dualisme kosmik, dan etika yang tegas dalam Zoroastrianisme memberi warna pada perkembangan filsafat Hindu. Konsep Asha (kebenaran, keteraturan) dalam Zoroastrianisme beresonansi dengan Rta dalam tradisi Veda, sementara pertentangan antara Ahura Mazda dan Angra Mainyu memiliki paralel dengan pertarungan antara dewa dan asura dalam kosmologi India.
Pengaruh Persia pada Buddhisme: Dari Mithra hingga Amitabha
Pengaruh Persia pada Buddhisme, khususnya aliran Mahayana, jauh lebih dalam dan transformatif. Buddhisme menyebar ke Persia pada abad ke-2 SM selama dinasti Parthia dan dihormati di Asia Tengah, termasuk wilayah Iran timur dan Afghanistan. Buddhisme Persia kemudian berintegrasi ke dalam seni dan filsafat agama dinasti Sasanian, mengembangkan budaya Buddhis yang unik.
Pengaruh paling signifikan terlihat pada konsep Amitabha Buddha. Penelitian arkeologi di Tajikistan dan studi tentang dewa Mithra mengungkap bahwa kepercayaan pada Amitabha Buddha didirikan melalui campuran Zoroastrianisme dan Buddhisme, dengan Mitra (Mihr)—dewa yang dipuja bersama oleh India dan Iran—sebagai mediatornya. Amitabha dan Vairocana Buddha dipandang sebagai hasil resepsi Buddhis terhadap dewa tertinggi Zoroastrianisme, Ahura Mazda, sementara Maitreya (Buddha masa depan) merupakan hasil fusi Buddhisme dengan Mithraisme.
Selain itu, konsep surga dan neraka yang terbagi secara dualistik dalam Buddhisme Mahayana juga dianalisis sebagai hasil adopsi dari dualisme Zoroastrianisme tentang kebaikan dan kejahatan serta konsep ruang akhirat yang terbagi. Dengan kata lain, lanskap spiritual Mahayana tidak dapat dipahami sepenuhnya tanpa memperhitungkan pengaruh Iran.
Pengaruh ini juga merambah ke seni rupa. Seni Gandhara, yang berkembang di wilayah yang dulunya merupakan satrapi Persia, menunjukkan bentuk-bentuk baru yang diilhami oleh model Persia dan Yunani, yang kemudian diadaptasi untuk menceritakan kisah-kisah asal India. Pengaruh Persia dan Parthia terlihat jelas dalam bentuk hewan bersayap, pakaian, dan gaya profil dalam seni Gandhara. Bahkan, gagasan untuk merepresentasikan Buddha dalam bentuk antropomorfik—sebuah terobosan dari tradisi anikonik awal—mendapat dorongan dari tradisi artistik Persia yang kaya akan penggambaran figur.
Yang tak kalah penting, An Shigao, seorang pangeran Parthia, menjadi salah satu penerjemah pertama teks-teks Buddhis ke dalam bahasa Tionghoa dan dianggap sebagai penyebar awal Buddhisme di Tiongkok. Ini menunjukkan bahwa komunitas Persia-Parthia berperan sebagai jembatan antara India, Asia Tengah, dan Asia Timur.
Pengaruh Persia pada Bahasa Sanskerta
Pengaruh Persia pada bahasa Sanskerta berlangsung dalam beberapa gelombang. Yang paling awal adalah warisan Indo-Iran itu sendiri: ratusan kata dasar yang dibagi bersama antara Sanskerta dan bahasa-bahasa Iran, yang menunjukkan periode ketika kedua bahasa ini masih sangat dekat.
Gelombang berikutnya datang pada periode Achaemenid. Setelah Kekaisaran Achaemenid memperluas wilayahnya hingga Gandhara pada abad ke-6 SM, terjadi peminjaman leksikal dari bahasa Iran ke dalam bahasa-bahasa India. Beberapa kata Sanskerta bahkan berubah makna di bawah pengaruh kosakata Iran; misalnya, kata Sanskerta ayatana yang awalnya berarti “tempat tertutup” atau “kediaman”, di bawah pengaruh Persia Kuno ayadana (“tempat suci”) memperoleh makna sebagai “tempat untuk api suci”.
Daftar kata pinjaman Iran dalam Sanskerta terutama berkaitan dengan urusan militer dan peralatan, sesuai dengan superioritas militer Iran selama berabad-abad. Kata-kata seperti varahana (baju zirah), khola (helm), parydana (pelana), dan pilu (gajah) adalah pinjaman dari bahasa Iran. Di luar konteks militer, kata pustaka (“buku”) juga berasal dari Iran (Persia post, “kulit”), dan mihira (“matahari”) dari mihr. Kata-kata ini masuk melalui Prakrit Barat Laut dan banyak ditemukan dalam teks-teks Buddhis Sanskerta.
Pengaruh juga berlangsung pada periode Sasanian. Kitab-kitab India, terutama dalam hal cerita dan filsafat, diterjemahkan ke dalam bahasa Pahlavi (Persia Pertengahan), dan ini melibatkan introduksi nama dan kata-kata India ke dalam bahasa Persia Pertengahan. Sebaliknya, bahasa Pahlavi juga menyerap sejumlah kata dari Sanskerta, seperti vin (dari vīnā, “kecapi”), chātrang (dari chāturaṅga, “catur”), dan bilaur (dari vaidārya, “kristal”). Pertukaran ini menunjukkan hubungan dua arah yang intensif.
Yang menarik, Pāṇini, penulis tata bahasa Sanskerta paling awal yang masih ada (Aṣṭādhyāyī, abad ke-5 SM), adalah penduduk asli Śālatura dan dengan demikian seorang subjek Achaemenid. Karyanya menunjukkan bahwa bahasa Sanskerta sangat berkembang di India yang berada di bawah kekuasaan Achaemenid. Bahkan, komposisi tata bahasa derivasional Sanskerta yang canggih ini dimungkinkan oleh introduksi tulisan ke India kuno sebagai akibat dari penaklukan Achaemenid atas Gandhara pada akhir abad ke-6 SM. Dengan kata lain, infrastruktur administratif Persia menciptakan kondisi material yang memungkinkan lahirnya tradisi gramatikal Sanskerta yang menjadi fondasi intelektual Hindu-Buddha.
pengaruh Persia dalam pembentukan Hindu-Buddha dan bahasa Sanskerta adalah fenomena multidimensional yang berlangsung selama berabad-abad. Secara historis dan antropologis, akar Indo-Iran yang sama menciptakan fondasi mitologis dan ritual yang memungkinkan terjadinya pertukaran ide. Secara arkeologis, bukti-bukti material—dari seni Gandhara hingga relikui Sasanian di Asia Tengah—menunjukkan betapa intensifnya interaksi budaya yang terjadi.
Persia kuno, melalui Zoroastrianisme dan kultus Mithra, menyuntikkan ide-ide tentang cahaya ilahi, dualisme, dan konsep ketuhanan yang personal ke dalam kancah spiritual India. Ide-ide ini beresonansi dengan tradisi Veda yang sudah ada dan, melalui proses sintesis yang kompleks, membantu membentuk wajah baru dari Hinduisme dan terutama Buddhisme Mahayana. Dalam bidang bahasa, warisan Indo-Iran dan peminjaman leksikal selama periode Achaemenid dan Sasanian memperkaya kosakata Sanskerta dengan istilah-istilah militer, administrasi, dan keagamaan.
Dengan demikian, pembentukan agama Hindu dan Buddha—serta bahasa Sanskerta yang menjadi wahana ekspresinya—tidak dapat dipahami sepenuhnya tanpa memperhitungkan peran penting yang dimainkan oleh Persia kuno sebagai jembatan budaya dan sumber inspirasi spiritual di jantung Asia. Sejarah antropologi mengajarkan bahwa tidak ada peradaban yang benar-benar “murni”. Semua tumbuh dari persilangan, pertukaran, dan dialog. Dan di jantung persilangan itu, Persia kuno memainkan peran yang tidak kecil: bukan sebagai penakluk spiritual, melainkan sebagai jembatan yang memungkinkan ide-ide besar bertemu, berpadu, dan menjelma menjadi warisan kemanusiaan yang kita kenal hingga hari ini.
Wilayah Kekuasaan Imperium Persia (sebuah Relasi Kuasa).
Peradaban Persia kuno adalah salah satu yang paling berpengaruh dalam sejarah dunia. Selama lebih dari seribu tahun, kekaisaran ini tidak hanya menjadi kekuatan politik dan militer yang dominan, tetapi juga jembatan budaya yang menghubungkan Timur dan Barat. Sejarah peradaban Persia pra-Islam terbagi ke dalam tiga dinasti besar: Achaemenid, Parthia, dan Sasanian. Masing-masing meninggalkan warisan yang mendalam bagi peradaban manusia hingga hari ini.
Kekaisaran Achaemenid (559–330 SM): Fondasi Kekaisaran Universal
Dinasti Achaemenid adalah dinasti pertama asal Persia yang menjadi penguasa seluruh wilayah Iran, sehingga kekaisarannya sering disebut sebagai Kekaisaran Persia Pertama. Kekaisaran ini didirikan oleh Cyrus Agung (Koresh Agung) pada sekitar tahun 550 SM setelah ia menggulingkan konfederasi Medes. Cyrus kemudian melanjutkan ekspansi dengan mengalahkan kerajaan Lydia (546 SM) dan Babilonia (539 SM), membuka jalan bagi penaklukan Mesir dan Asia Kecil.
Pada puncak kejayaannya, Kekaisaran Achaemenid membentang dari Semenanjung Balkan di Eropa hingga Lembah Sungai Indus di India. Secara lebih rinci, wilayahnya meliputi:
· Asia Kecil (Anatolia): Mencakup kerajaan Lydia, Frigia, Kapadokia, Kilikia, dan Lykia.
· Mesopotamia dan Levant: Termasuk Babilonia, Asyur, Suriah, dan Fenisia, serta Mesir.
· Dataran Tinggi Iran: Wilayah inti kekaisaran, termasuk Persis (Fars), Media, dan Parthia.
· Asia Tengah dan Timur: Ekspansi ke arah timur mencapai Baktria, Sogdiana, Arakhosia (Kandahar), dan Gandhara hingga ke Lembah Indus.
· Eropa: Wilayah Thrace dan Makedonia di Semenanjung Balkan sempat dikuasai, meskipun upaya menaklukkan daratan Yunani pada akhirnya gagal.
Untuk mengelola wilayah yang sangat luas ini, Darius I (522–486 SM) membagi kekaisaran menjadi sekitar 20 satrapi (provinsi) yang dipimpin oleh seorang gubernur bernama satrap. Sistem satrapi ini menjadi model bagi banyak kekaisaran setelahnya. Satrap diangkat oleh raja, biasanya dari keluarga kerajaan atau bangsawan Persia, dan bertanggung jawab atas pajak, keamanan internal, serta pasukan. Untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan, Darius juga menetapkan sistem kontrol, di mana pejabat tinggi satrapi dan komandan pasukan bertanggung jawab langsung kepada raja, dan inspeksi berkala dilakukan oleh pejabat kerajaan.
Masa kejayaan Achaemenid mencapai puncaknya pada pemerintahan Darius I, yang juga membangun Persepolis, ibu kota megah yang menjadi simbol kejayaan Achaemenid. Kekaisaran ini akhirnya runtuh pada tahun 330 SM setelah ditaklukkan oleh Aleksander Agung dari Makedonia.
Kekaisaran Parthia (247 SM–224 M): Kekuatan yang Menyaingi Romawi
Setelah periode Helenistik di bawah Seleucid, Kekaisaran Parthia muncul sebagai kekuatan baru di Iran. Dinasti ini didirikan oleh Arsaces I, seorang penguasa kelompok nomaden Parni yang menyerbu Kekaisaran Seleukia. Parthia, yang juga dikenal sebagai Kekaisaran Arsakid, muncul sebagai kekuatan politik dan militer utama Iran pada tahun 247 SM.
Pada puncak kejayaannya, Dinasti Arsacid Parthia menguasai wilayah yang luas membentang dari Sungai Efrat hingga Himalaya. Penguasaan Jalur Sutra membuat Parthia sangat kaya, memungkinkan para penguasanya menghidupkan kembali kebesaran Achaemenid dan meniru multikulturalismenya. Kekayaan ini mendanai pasukan yang canggih, terkenal dengan pemanah berkuda dan kavaleri, menjadikan Parthia sebagai satu-satunya kekaisaran kuno yang mampu menyaingi Romawi.
Parthia menerapkan sistem pemerintahan desentralisasi yang bertahan hingga 500 tahun. Ibu kota utama mereka adalah Ctesiphon, yang didirikan oleh Raja Mithridates I di Mesopotamia. Kekaisaran Parthia akhirnya digantikan oleh Sasanian pada tahun 224 M.
Kekaisaran Sasanian (224–651 M): Puncak Peradaban Persia Pra-Islam
Kekaisaran Sasanian adalah dinasti Persia kuno terakhir dan merupakan negara terbesar di zaman kuno akhir. Didirikan oleh Ardashir I pada tahun 224 M setelah ia menggulingkan Parthia, Sasanian menjadi kekuatan dominan di Timur Tengah selama lebih dari empat abad.
Pada masa Shapur I (241–272 M), kekaisaran membentang dari Sogdiana dan Iberia di utara hingga wilayah Mazun di Arab selatan, dan dari Sungai Indus di timur hingga lembah Tigris dan Efrat di barat. Zoroastrianisme dijadikan agama negara, dan pada berbagai waktu penganut agama lain mengalami persekusi resmi. Pemerintahan Sasanian sangat terpusat, dengan pejabat provinsi bertanggung jawab langsung kepada takhta, dan pembangunan jalan, kota, serta pertanian dibiayai oleh pemerintah.
Sasanian juga mengalami kebangkitan seni Iran. Arsitektur sering mengambil proporsi megah, seperti istana di Ctesiphon, Firuzabad, dan Sarvestan. Salah satu peninggalan seni Sasanian yang paling khas adalah relief batu yang dipahat pada tebing batu kapur, misalnya di Bishapur, Naqsh-e Rostam, dan Naqsh-e Rajab. Kekaisaran Sasanian akhirnya runtuh akibat penaklukan Muslim Arab pada tahun 651 M, menandai berakhirnya era pra-Islam di Persia.
Warisan Peradaban Persia
Peradaban Persia kuno meninggalkan warisan yang sangat luas bagi dunia. Dalam bidang pemerintahan, bangsa Persia mengembangkan sistem satrapi—pembagian wilayah menjadi provinsi-provinsi yang dipimpin oleh gubernur (satrap) yang diangkat langsung oleh raja. Sistem ini menjadi model bagi banyak kekaisaran setelahnya.
Dalam bidang infrastruktur, bangsa Persia menemukan sistem pos yang efisien dan membangun jaringan jalan yang rumit, termasuk Jalan Kerajaan yang memfasilitasi komunikasi lintas jarak jauh. Mereka juga mengembangkan sistem irigasi yang canggih yang mengubah gurun menjadi “surga” pertanian.
Dalam bidang seni dan arsitektur, kompleks Pasargadae merupakan contoh luar biasa dari periode awal seni dan arsitektur Achaemenid, memperlihatkan tahap fundamental dalam perkembangan seni klasik Persia dengan gaya yang lahir dari perpaduan pengaruh Ionia. Persepolis dibangun di atas teras batu raksasa setinggi 15 meter, dengan bangunan istana yang berdiri megah di atas dataran.
Yang tak kalah penting, Persia berperan sebagai jembatan antara Timur dan Barat. Kekaisaran ini menjadi persimpangan terbesar agama, peradaban, bahasa, dan perdagangan antara Timur dan Barat. Budaya Persia menjadi fundamental bagi pengembangan Jalur Sutra, yang berfungsi sebagai jembatan antar-peradaban, mendorong pertukaran ide, barang, dan teknologi.
Sejarah peradaban Imperium Persia adalah kisah tentang tiga dinasti besar yang masing-masing memberikan kontribusi unik bagi perkembangan peradaban manusia. Achaemenid meletakkan fondasi kekaisaran universal pertama dengan sistem pemerintahan yang toleran dan terorganisir. Parthia menjaga warisan tersebut sambil menjadi penjaga Jalur Sutra dan penyeimbang kekuatan Romawi. Sasanian membawa Persia ke puncak kejayaan budaya dan spiritual, dengan Zoroastrianisme sebagai agama negara dan seni yang mencapai renaissance. Warisan mereka—dari sistem satrapi hingga arsitektur monumental, dari jaringan pos hingga peran sebagai jembatan peradaban—terus terasa hingga hari ini, menjadikan Persia kuno sebagai salah satu peradaban paling berpengaruh dalam sejarah umat manusia.
Kuasa Persia di Jazirah Arabia (Pra Islam).
Pengaruh Persia dalam sejarah Arab sangatlah besar dan berlapis, jauh melampaui sekadar penaklukan militer. Jalinan ini dimulai jauh sebelum Islam, berlanjut menjadi fondasi bagi peradaban Islam, dan warisannya masih terasa hingga kini.
Jejak Sebelum Islam: Akar yang Tertanam Dalam
Hubungan Arab dan Persia sudah terjalin sejak masa Achaemenid. Wilayah Arab pernah menjadi satrapi (provinsi) Persia, dan orang Arab bertugas sebagai kavaleri dalam pasukan Xerxes. Pengaruh ini berlanjut melalui kerajaan Al-Hirah di Irak, yang menjadi satelit Persia. Al-Hirah berfungsi sebagai saluran utama masuknya pengaruh budaya dan sastra Persia ke jantung Arab. Bahkan, teknik militer seperti penggalian parit pertahanan yang disarankan Salman al-Farisi kepada Nabi Muhammad saat Perang Khandaq diadopsi dari pengalaman Persia.
Fondasi bagi Peradaban Islam
Pasca-Islam, pengaruh Persia semakin dalam dan terstruktur. Banyak istilah keagamaan dalam Al-Qur’an, seperti firdaus (surga), barzakh (pembatas), dan zanjabil (jahe), diserap dari bahasa Persia.
Menata Pemerintahan dan Birokrasi
Kontribusi paling revolusioner Persia adalah dalam bidang pemerintahan, terutama pada era Dinasti Abbasiyah dan Fatimiyah. Kaum Mawali (non-Arab) Persia yang terdidik memegang peran kunci sebagai birokrat dan sekretaris negara. Sistem pemerintahan Sasanian diadopsi, mengubah gaya khalifah menjadi lebih absolut dan agung, serta memperkenalkan lembaga seperti diwan (departemen pemerintah) dan qadi (hakim agama).
Keunggulan Sastra, Seni, dan Ilmu
Budaya Arab juga diperkaya oleh khazanah intelektual Persia:
· Sastra: Karya-karya diterjemahkan dari bahasa Pahlavi, memunculkan genre sastra adab. Bentuk puisi seperti ruba’i dan ghazal juga diadopsi dari Persia.
· Arsitektur: Arsitek dan pekerja Persia dipekerjakan untuk membangun Masjid Damaskus dan mereparasi Ka’bah. Elemen iwan (aula berkubah) menjadi ciri khas arsitektur Islam.
· Musik: Istilah dan instrumen musik Arab banyak yang berasal dari Persia, yang menjadi fondasi terbentuknya musik klasik Arab.
· Ilmu Pengetahuan: Penerjemahan teks-teks ilmiah dan filosofis Persia memicu perkembangan sains Islam, terutama melalui Rumah Kebijaksanaan (Bait al-Hikmah) di Baghdad.
Pengaruh Persia di dunia Arab adalah sebuah sintesis budaya yang mendalam. Melalui administrasi, sastra, arsitektur, dan ilmu pengetahuan, Persia bukan hanya menjadi bagian dari peradaban Islam, tetapi seringkali menjadi arsitek utama di balik kejayaannya. Seperti yang disimpulkan oleh Ehsan Yarshater, “fase pertama peradaban Islam adalah Arab, yang kedua adalah Persia”.
Arkeologi Persia di Jazirah Arabia.
Artefak sejarah Persia di Jazirah Arab sebelum Islam tersebar di berbagai situs, mulai dari benteng militer, permukiman dagang, hingga koin dan segel. Temuan-temuan ini membuktikan kehadiran politik, militer, dan budaya Persia—terutama pada era Achaemenid dan Sasanian—di wilayah yang kini menjadi Arab Saudi, Oman, UEA, dan Irak selatan.
Benteng dan Situs Arkeologi
· Benteng Fulayj (Oman): Situs paling terang-terangan. Penggalian mengungkap benteng Sasanian Akhir yang dibangun pada abad ke-6 hingga awal ke-7 M, satu-satunya benteng Sasanian di Arabia yang penanggalannya pasti melalui AMS. Fungsinya untuk mengontrol wilayah dan jalur dagang.
· Situs di Wilayah Al-Hasa (Arab Saudi): Kajian arkeologi di wilayah timur Arab Saudi ini mendokumentasikan temuan dari milenium ke-3 SM hingga periode pra-Islam, termasuk lapisan budaya yang terkait dengan kehadiran Persia.
· Al-Hirah (Irak): Ibu kota kerajaan Arab-Lakhmid, vasal Sasanian, merupakan saluran utama masuknya pengaruh budaya Persia ke Arabia. Arsitektur istananya sangat dipengaruhi seni Sasanian.
Koin dan Sistem Moneter
· Koin Sasanian: Ditemukan di berbagai situs di Arab timur. Koin-koin ini tidak hanya bukti perdagangan, tetapi juga alat legitimasi politik Persia di wilayah tersebut.
· Koin Lokal dengan Legenda Aram: Di wilayah Arab timur, terdapat koin perak dan billon dengan legenda Aram, lingua franca pada masa itu, yang menunjukkan otonomi lokal di bawah payung pengaruh Persia.
Keramik dan Wadah Perdagangan
· “Torpedo Jar”: Wadah keramik besar dengan lapisan dalam aspal (bitumen) yang digunakan untuk mengangkut cairan seperti anggur atau minyak. Jenis wadah ini umum ditemukan di situs-situs Teluk dan Samudra Hindia dari abad ke-2 SM hingga ke-3 M.
· Keramik Sasanian: Meskipun asembel keramik Sasanian yang pasti masih jarang, temuan pecahan keramik di situs seperti Fulayj dan wilayah Teluk menjadi bukti kehadiran Persia.
Segel dan Amulet
· Segel Stempel Sasanian: Segel dari batu carnelian atau agate dengan ukiran gambar, aksara Pahlavi, atau nishan (lambang heraldik). Segel ini berfungsi sebagai tanda tangan resmi, alat administrasi, dan jimat, serta menjadi bukti kuat adanya birokrasi dan individu Persia di Arabia.
Prasasti dan Sumber Tertulis
· Prasasti Dwi-bahasa: Di situs Mlayha (Arab Saudi), ditemukan prasasti batu nisan dengan inskripsi Aram-Hasaitik. Ini menunjukkan penggunaan bahasa Aram, bahasa administrasi Kekaisaran Achaemenid, di wilayah Arab.
· Sumber Sastra: Catatan sejarah Arab pra-Islam, seperti puisi Jahiliyah, mengandung banyak referensi tentang interaksi dengan Persia, termasuk deskripsi tentang pakaian, senjata, dan praktik budaya mereka.
Artefak-artefak ini melukiskan gambaran kehadiran Persia yang berlapis di Arabia pra-Islam: bukan sekadar penaklukan militer, melainkan juga jaringan perdagangan, administrasi, dan budaya yang dalam. Dari benteng di Oman hingga segel di Bahrain, dari koin Sasanian hingga istana di al-Hirah, bukti material ini menunjukkan bahwa Jazirah Arab, jauh sebelum Islam, telah menjadi bagian dari orbit peradaban Persia.
Orang Orang Persia (Arya) di Nusantara.
Kedatangan orang Persia ke Nusantara dan Asia Tenggara berlangsung dalam beberapa gelombang, dengan rentang waktu yang cukup panjang. Berdasarkan catatan penjelajah dan bukti arkeologis, kehadiran mereka dapat dilacak sejak awal abad ke-3 Masehi, jauh sebelum kedatangan Islam.
Abad ke-3 Masehi
Beberapa sarjana meyakini bahwa pedagang dari Timur Tengah, yang dirintis oleh orang Persia, telah tiba di Semenanjung Melayu dan Nusantara sejak awal abad ke-3 Masehi. Pada masa ini, orang Persia dikenal sebagai pelaut dan pembuat kapal yang ulung, dan merekalah yang membuka jalur pelayaran ke timur.
Abad ke-7 Masehi
Hubungan perdagangan dan budaya antara Persia dan Nusantara memasuki fase yang lebih terdokumentasi pada abad ke-7 Masehi, terutama di era kerajaan Sriwijaya.
· Catatan I-Tsing (671 M): Biksu Tiongkok ini menumpang kapal Persia menuju Palembang (Sriwijaya), membuktikan kehadiran mereka di jalur pelayaran Nusantara.
· Catatan Dinasti Tang: Pada 717 M, tercatat sekitar 35 kapal Persia tiba di Palembang.
Dominasi dan Migrasi: Abad ke-8 hingga ke-10 Masehi
Pada abad ke-8 hingga ke-9 Masehi, bukti arkeologis semakin melimpah. Artefak seperti keramik Persia, produk kaca, dan manik-manik ditemukan di situs-situs penting seperti Lembah Bujang (Kedah) dan Kuala Selinsing (Perak).
Pada abad ke-10 Masehi (912 M), terjadi migrasi keluarga besar dari berbagai wilayah Iran (seperti Kashan dan Lorestan) ke Gresik, Jawa Timur, dan menetap di daerah yang hingga kini dikenal sebagai Loran.
Jadi, orang Persia tidak datang dalam satu waktu, melainkan melalui proses panjang yang dimulai sejak abad ke-3 M, berkembang pesat pada abad ke-7 M, dan terus berlanjut melalui migrasi komunitas pada abad ke-10 M.
Catatan Para Penjelajah.
Jejak orang Persia di Nusantara terekam jelas dalam berbagai catatan penjelajah asing, mulai dari biksu Tiongkok, musafir Arab, hingga pejabat Portugis. Catatan-catatan ini membuktikan bahwa komunitas Persia bukan sekadar pedagang yang singgah, melainkan aktor penting dalam jaringan maritim, penyebaran Islam, dan pembentukan budaya di pelabuhan-pelabuhan Nusantara.
Catatan Penjelajah Tiongkok: Saksi Awal Kehadiran Persia
Catatan dari Tiongkok memberikan bukti paling awal tentang kehadiran orang Persia di perairan Nusantara, yang mereka sebut sebagai Po-sse.
· I-tsing (Yijing), 671 M: Biksu Buddha ini menumpang kapal Po-sse dari Kanton menuju Fo-shih (Śrīwijaya). Catatan ini mengindikasikan kehadiran orang-orang Persia di bandar-bandar pesisir Tiongkok Selatan dan Nusantara.
· Kronik Dinasti Tang, 674 M: Disebutkan adanya pemukiman pedagang Arab dan Persia (Ta-shih dan Po-sse) di pesisir barat Sumatera.
· Catatan Tahun 717 M: Diberitakan 35 kapal Po-sse mengiringi kapal-kapal India dari Srilanka ke Śrīwijaya.
· Ma Huan, abad ke-15: Penerjemah Laksamana Cheng Ho ini mencatat di Jawa terdapat tiga golongan bangsa, dan yang dimaksud adalah orang-orang Arab dan Persia.
Catatan Musafir Arab: Komunitas Persia di Samudera Pasai
· Sulaiman al-Tajir (abad ke-9): Pedagang dari Siraf, Iran, ini menulis catatan perjalanannya ke India dan Tiongkok sekitar tahun 850 M. Ia adalah bukti awal mobilitas pedagang Persia di Samudra Hindia.
· Ibn Battuta (abad ke-14): Musafir Maroko ini singgah di Samudera Pasai dan mencatat bahwa Sultan dikelilingi oleh ulama, termasuk dua orang Persia terkenal: Qadi Sharif Amir Sayyid dari Shiraz dan Taj ad-Din dari Isfahan (Iran). Catatan ini membuktikan kehadiran elite agama Persia di jantung kerajaan Islam pertama Nusantara.
Catatan Penjelajah Eropa: Jaringan Pedagang Persia di Selat Malaka
· Marco Polo (1292 M): Dalam perjalanannya dari Tiongkok ke Persia, rombongan Marco Polo singgah di Sumatera selama lima bulan untuk menghindari badai. Meski catatannya lebih fokus pada deskripsi lokal, rute pelayarannya sendiri membuktikan bahwa jalur maritim yang menghubungkan Nusantara dan Persia sudah mapan.
· Tome Pires (1512–1515): Pejabat Portugis ini dalam karyanya Suma Oriental memberikan gambaran paling rinci. Ia mencatat bahwa di pesisir pantai Jawa, banyak pedagang yang biasa datang berasal dari Persia, Arab, Gujarat, Bengali, Melayu, dan lainnya.
· Pires mencatat bahwa komunitas Persia dan Arab di Malaka berjumlah besar, dengan 1.000 orang Gujarat dan 4.000 orang Bengali, Persia, dan Arab.
· Di Pasai, ia mengonfirmasi keberadaan komunitas pedagang Persia yang permanen, di samping koloni Arab, Turki, Gujarat, dan lainnya.
· Di Barus (pantai barat Sumatera), Pires menyaksikan bahwa orang Persia terus berlabuh untuk memuat kapur barus dan kemenyan, bersama pedagang Gujarat, Arab, dan Bengali.
Catatan para penjelajah asing ini melukiskan gambaran yang konsisten: orang Persia hadir di Nusantara sejak abad ke-7 M, tidak hanya sebagai pedagang, tetapi juga sebagai ulama, birokrat, dan pembentuk komunitas. Mereka menjadi bagian integral dari jaringan maritim yang menghubungkan Tiongkok, India, Arabia, dan Nusantara. Kehadiran mereka di Śrīwijaya, Samudera Pasai, Barus, Malaka, dan pesisir Jawa membuktikan bahwa pengaruh Persia di Nusantara adalah fenomena yang berlangsung lama dan berdampak mendalam.