Editorial: dulwahab (jurnalis,praktisi ekowisata,perintis destinasi Hiu Paus Gorontalo).
Desa Botubarani di Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo, telah bertransformasi dari sebuah perkampungan nelayan tradisional menjadi destinasi ekowisata hiu paus yang mendunia. Sejak kemunculan hiu paus secara rutin pada tahun 2016, kawasan ini diperkirakan menghasilkan omzet tahunan sekitar Rp7–10 miliar, dengan rata-rata perputaran uang harian mencapai Rp20–30 juta.
Botubarani bukanlah nama yang asing dalam peta pariwisata bahari Indonesia. Terletak hanya sekitar 15–30 menit berkendara dari pusat Kota Gorontalo, desa ini menawarkan pengalaman langka: berenang atau snorkeling bersama hiu paus (Rhincodon typus) yang muncul hanya beberapa puluh meter dari garis pantai. Berbeda dengan destinasi hiu paus lain seperti Teluk Cenderawasih yang memerlukan pelayaran panjang, Botubarani menawarkan aksesibilitas yang jauh lebih tinggi.
Sejak fenomena kemunculan hiu paus mulai viral pada tahun 2016, arus kunjungan wisatawan terus meningkat. Pemerintah daerah mencatat kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang signifikan, sementara masyarakat setempat mengembangkan berbagai layanan wisata. Pertanyaan yang kemudian muncul: seberapa besar sebenarnya omzet ekonomi yang berputar di kawasan ini, dan bagaimana aliran manfaatnya terdistribusi di antara warga?
Estimasi Omzet Tahunan
Berdasarkan berbagai data yang dihimpun dari penelitian akademik, laporan pemerintah daerah, dan pemberitaan dan Praktisi wisata, total omzet tahunan Desa Wisata Hiu Paus Botubarani dapat diestimasi pada kisaran Rp7–10 miliar per tahun dan terkadang lebih. Angka ini mencakup seluruh transaksi ekonomi yang terjadi di kawasan wisata, mulai dari tiket masuk, sewa perahu, jasa pemandu, penyewaan alat snorkeling,jasa Drone, penjualan makanan dan minuman, souvenir, hingga layanan homestay.
Estimasi ini sejalan dengan valuasi ekonomi total kawasan yang pernah dihitung dalam sebuah penelitian pada tahun 2020, yaitu sekitar Rp7,8 miliar pada periode puncak kemunculan hiu paus. Angka tersebut mencerminkan nilai ekonomi langsung yang dihasilkan dari aktivitas wisata di kawasan tersebut.
Omzet Harian
Jika omzet tahunan diproyeksikan ke dalam satuan harian, maka rata-rata perputaran uang di kawasan Botubarani mencapai Rp20 juta hingga Rp30 juta per hari. Angka ini merupakan akumulasi dari berbagai transaksi yang dilakukan wisatawan, termasuk:
· Tiket masuk dan retribusi: Rp10.000–Rp50.000 per orang
· Sewa perahu: Rp50.000–Rp200.000 per perahu
· Jasa pemandu dan snorkeling: Rp50.000–Rp150.000 per orang
· Penerbangan drone: Rp100.000–Rp300.000 per sesi
· Makanan dan minuman: Rp15.000–Rp50.000 per porsi
· Souvenir: Rp25.000–Rp150.000 per item
· Homestay: Rp250.000 per malam
Pada hari-hari ramai, terutama saat akhir pekan, hari libur nasional, atau event besar seperti Pekan Nasional (PENAS), omzet harian bisa jauh melampaui rata-rata tersebut. Sebagai ilustrasi, selama PENAS, kunjungan 3.310 orang menghasilkan omzet sekitar Rp355 juta dalam beberapa hari saja.
Multiflier Efek ekonomi
Pariwisata hiu paus di Botubarani tidak hanya menghasilkan pendapatan langsung bagi operator perahu, tetapi juga menciptakan efek berganda (multiplier effect) yang menjalar ke berbagai lapisan ekonomi masyarakat. Berdasarkan penelitian, nilai Keynesian multiplier di kawasan ini sekitar 0,17, yang berarti setiap tambahan Rp1 pengeluaran wisatawan akan menghasilkan sekitar Rp0,17 dampak ekonomi langsung bagi masyarakat sekitar. Sementara itu, rasio Type I income multiplier mencapai 1,08, menunjukkan bahwa setiap kenaikan Rp1 pendapatan usaha akan meningkatkan pendapatan tenaga kerja di sekitarnya sebesar Rp1,08.
Efek berganda ini terwujud dalam berbagai bentuk:
· Penyerapan tenaga kerja: Nelayan yang sebelumnya menangkap ikan beralih menjadi operator perahu, pemandu, atau penyedia jasa lainnya.
· Pertumbuhan usaha mikro: Munculnya warung makan, kios souvenir, penyewaan gazebo, dan homestay yang dikelola warga setempat.
· Peningkatan pendapatan rumah tangga: Pendapatan tambahan dari sektor wisata memungkinkan keluarga nelayan memiliki sumber penghasilan alternatif, terutama saat musim paceklik ikan.
Distribusi Pendapatan Antar Pelaku Usaha
Meskipun omzet total terlihat besar, distribusinya di antara pelaku usaha cukup bervariasi:
Jenis Usaha Estimasi Pendapatan
Operator perahu (milik sendiri) ± Rp11,7 juta/tahun (data Jan–Mei 2025)
Operator perahu (sewa) ± Rp1,03 juta/tahun
Pemandu perahu kaca Rp60.000/tamu, 6–7 tamu/hari
Pilot drone ± Rp500.000/hari (setelah kompetisi meningkat)
Penjual souvenir Rp25.000–Rp150.000/item
Homestay Rp250.000/malam, ± 8 tamu/bulan
Data ini menunjukkan bahwa pemilik aset (perahu, drone, homestay) cenderung memperoleh pendapatan yang lebih stabil dan lebih besar dibandingkan mereka yang hanya menyediakan jasa tenaga. Kesenjangan ini menjadi catatan penting dalam analisis keadilan distributif ekonomi pariwisata.
Tantangan Keberlanjutan
Sumber daya utama Botubarani adalah hiu paus liar yang kemunculannya tidak dapat dijamin setiap hari. Faktor cuaca, musim, dan ketersediaan makanan (plankton) sangat memengaruhi frekuensi kemunculan mereka. Pada musim angin kencang atau gelombang tinggi, wisatawan tidak dapat melaut, dan seluruh rantai ekonomi pun terhenti. Ketidakpastian ini menjadikan pendapatan masyarakat sangat fluktuatif — pada hari ramai bisa mencapai jutaan rupiah, namun pada hari sepi bisa turun drastis hingga hanya puluhan ribu rupiah.
Tekanan terhadap Ekosistem
Meningkatnya jumlah kunjungan menimbulkan kekhawatiran akan dampak terhadap perilaku dan kesehatan hiu paus. Interaksi yang terlalu intensif, jarak yang terlalu dekat, serta aktivitas snorkeling dan diving yang tidak terkendali dapat mengganggu pola makan dan istirahat hewan tersebut. Pemerintah Provinsi Gorontalo bahkan pernah mengusulkan kenaikan tarif tiket hingga Rp1 juta per orang untuk membatasi jumlah kunjungan dan beralih ke model high-value, low-impact tourism. Usulan ini menuai pro dan kontra, terutama dari kalangan pelaku usaha kecil yang khawatir kehilangan pendapatan harian.
Kesenjangan dan Ketidakmerataan
Meskipun pariwisata telah menciptakan lapangan kerja, manfaatnya belum merata. Sebagian besar pendapatan mengalir ke pemilik perahu dan operator yang memiliki modal, sementara pekerja lepas dan pedagang kecil menghadapi ketidakpastian yang lebih tinggi. Diperlukan mekanisme redistribusi yang lebih adil, misalnya melalui koperasi desa, sistem bagi hasil, atau program pelatihan dan pemberdayaan bagi kelompok yang kurang beruntung.
Desa Wisata Hiu Paus Botubarani merupakan contoh nyata bagaimana sumber daya alam ekowisata dapat menjadi penggerak ekonomi lokal yang signifikan. Dengan omzet tahunan yang diperkirakan mencapai Rp7–10 miliar dan perputaran harian sekitar Rp20–30 juta, kawasan ini telah menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan rumah tangga nelayan, dan memberikan kontribusi nyata terhadap pendapatan warga desa dan daerah.
Namun, keberlanjutan model ini bergantung pada tiga keseimbangan utama: pertama, keseimbangan antara pemanfaatan ekonomi dan konservasi satwa; kedua, keseimbangan distribusi manfaat antara pemilik modal dan pekerja; ketiga, keseimbangan antara lonjakan musiman dan kebutuhan pendapatan sepanjang tahun. Tanpa pengelolaan yang bijak, keajaiban hiu paus Botubarani yang telah mengangkat ekonomi desa ini bisa saja menjadi korban dari kesuksesannya sendiri.
Jika Ada 100 desa dan destinasi seperti ini di Provinsi Gorontalo,bisa dibayangkan pertumbuhan ekonomi Rakyatnya,tanpa harus merusak alam dan ribut ribut,uang masuk dengan nyata setiap hari secara konsisten.