Opini: dulwahab (Jurnalis Geo Politik,Pakar Iranology)
Wafatnya Rachmat Gobel meninggalkan duka mendalam bagi Partai NasDem Gorontalo. Selama bertahun-tahun, figur ini bukan sekadar ketua partai, melainkan pusat gravitasi elektoral yang mengubah NasDem dari partai pinggiran menjadi kekuatan dominan di Gorontalo. Pada Pemilu 2024, dari 227.533 suara yang diraih NasDem untuk DPR RI, sekitar 195.322 suara—setara 86 persen—adalah suara pribadi Rachmat Gobel. Angka ini sekaligus menunjukkan keberhasilan sekaligus kelemahan struktural partai, NasDem tumbuh besar, tetapi pijakannya bertumpu pada satu orang. Kepergiannya serta-merta memunculkan pertanyaan mendasar, mampukah partai ini bertahan, bahkan meraih dua kursi DPR RI pada Pemilu 2029, tanpa figur sentral tersebut?
Peluang itu tetap terbuka. Optimisme ini tidak lahir dari loyalitas buta, melainkan dari sejumlah faktor struktural dan strategis yang masih berpihak kepada NasDem Gorontalo. Pertama, dan yang paling menentukan, adalah wacana penambahan alokasi kursi DPR RI untuk Daerah Pemilihan Gorontalo dari tiga menjadi empat kursi pada Pemilu 2029. Jika penambahan ini terealisasi, ruang kompetisi akan meluas, dan peluang satu partai meraih lebih dari satu kursi menjadi jauh lebih besar. Dengan basis suara NasDem yang secara historis mendominasi, kursi tambahan keempat berpotensi besar menjadi milik NasDem, asalkan partai mampu mengonsolidasikan dukungan di bawah satu bendera.
Kedua, warisan struktural dan sosial keluarga Gobel masih menjadi modal yang tidak bisa diremehkan. Penunjukan Indrawati Gobel sebagai Ketua DPW NasDem Gorontalo periode 2026–2029 bukan sekadar formalitas organisasi. Indrawati adalah adik kandung Rachmat Gobel, dan keputusan Surya Paloh untuk menempatkannya di kursi ketua dapat dibaca sebagai upaya menjaga kesinambungan politik sekaligus memastikan garis kepemimpinan NasDem tetap terhubung dengan basis massa yang telah dibangun. Nama Gobel di Gorontalo bukan nama belaka, keluarga ini memiliki hubungan sosial, ekonomi, dan kekerabatan yang panjang dengan masyarakat Gorontalo. Kekerabatan masih menjadi penanda penting dalam politik Gorontalo, Indrawati Gobel tidak memulai dari nol, ia mewarisi pengenalan, jaringan, dan kepercayaan yang telah tertanam dalam ingatan kolektif masyarakat Gorontalo Sejak Tokoh dari Imam Hubulo,Pesantren Hubulo,Thayib Gobel dan Rachmat Gobel.
Ketiga, struktur partai yang solid di tingkat legislatif memberikan fondasi organisasi yang kokoh. NasDem Gorontalo memiliki 37 kursi di DPRD provinsi dan kabupaten/kota—hanya terpaut lima kursi dari Golkar yang memiliki 42 kursi. Kehadiran wakil rakyat NasDem di hampir seluruh tingkatan pemerintahan daerah memungkinkan partai untuk terus merawat basis konstituen, menjalankan program yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat, dan mempertahankan visibilitas politiknya. Dalam konteks pemilu legislatif, mesin organisasi yang hidup di akar rumput adalah aset yang tidak bisa digantikan oleh popularitas individu semata.
Keempat, konsolidasi internal yang tengah berjalan di bawah kepemimpinan Indrawati Gobel menunjukkan keseriusan partai dalam menghadapi 2029. Fokus awal kepemimpinannya adalah penataan struktur dari DPW hingga Dewan Pimpinan Ranting, verifikasi data sekitar 8.451 kader, serta penguatan kapasitas organisasi. Indrawati juga menegaskan bahwa keberlanjutan kepemimpinan tidak hanya soal mempertahankan struktur, tetapi juga menjaga semangat pengabdian, loyalitas, dan kerja nyata kader bagi masyarakat.
peluang NasDem Gorontalo meraih dua kursi DPR RI pada 2029 bukanlah angan-angan kosong. Ia bertumpu pada kombinasi antara penambahan alokasi kursi, warisan jaringan Almarhum Rachmat Gobel yang masih hidup, struktur partai yang kokoh hingga akar rumput, dan konsolidasi organisasi yang tengah berjalan. Kehilangan Rachmat Gobel memang mengurangi kekuatan elektoral partai, tetapi tidak menghapus fondasi yang telah ia bangun. Yang dibutuhkan sekarang adalah kepemimpinan yang mampu menerjemahkan warisan itu menjadi kekuatan kolektif,bukan sekadar memori, melainkan mesin politik yang bergerak atas nama banyak orang. Jika Indrawati Gobel dan seluruh jajaran NasDem Gorontalo berhasil mewujudkannya, dua kursi di Senayan bukanlah target yang mustahil.
Kekuatan Logistik NasDem Gorontalo yang Stabil Juga Menjadi Salah Satu Kunci
Peluang Partai NasDem Gorontalo meraih dua kursi DPR RI pada Pemilu 2029 tidak hanya bergantung pada figur dan basis suara semata. Ada satu faktor lain yang jarang dibahas dalam analisis politik elektoral, namun justru menjadi penopang senyap yang menentukan: kekuatan logistik partai yang stabil dan berkelanjutan. Logistik dalam konteks ini tidak sekadar berarti ketersediaan dana kampanye, melainkan mencakup keseluruhan infrastruktur organisasi, jaringan saksi, kaderisasi, dan fondasi ekonomi partai yang memungkinkan NasDem bergerak secara sistematis dari tingkat provinsi hingga ke setiap TPS. Stabilitas logistik inilah yang menjadi salah satu kunci mengapa kepergian Rachmat Gobel tidak serta-merta membuat peluang dua kursi lenyap.
Infrastruktur Saksi yang Masif dan Terlatih
Salah satu bukti paling konkret dari kekuatan logistik NasDem Gorontalo adalah kemampuan partai mengerahkan jaringan saksi dalam skala besar. Pada Pemilu 2024, DPW NasDem Gorontalo menggerakkan 12 ribu saksi untuk mengawal proses perolehan suara di setiap Tempat Pemungutan Suara (TPS) di seluruh Gorontalo. Setiap TPS didampingi oleh tiga saksi yang siap mengawal suara untuk DPR RI, DPRD Provinsi, maupun DPRD Kabupaten/Kota. Selain saksi, NasDem juga merekrut dan membimbing relawan di setiap TPS untuk memastikan pengawalan suara yang maksimal, sebuah langkah preventif untuk mengurangi risiko kecurangan.
Persiapan ini tidak dilakukan secara mendadak. Komisi Saksi NasDem Daerah (KSND) di tingkat kabupaten, seperti di Kabupaten Gorontalo, telah menggelar sosialisasi tata cara rekrutmen saksi TPS sejak November 2023, jauh sebelum hari pemungutan suara. DPW NasDem Gorontalo bahkan menggelar Pelatihan Pelatih Saksi (Training of Trainer) dengan mengundang KPU dan Bawaslu sebagai pemateri, memastikan bahwa para saksi tidak hanya hadir secara kuantitas, tetapi juga memiliki kapasitas teknis dan pemahaman regulasi yang memadai. Jaringan saksi yang terlatih dan tersebar merata di seluruh TPS merupakan aset logistik yang tidak bisa dibangun dalam waktu singkat, dan inilah yang memberikan NasDem keunggulan struktural dalam pengawalan suara pada setiap kontestasi elektoral.
Fondasi Ekonomi Partai yang Mulai Mandiri
Kekuatan logistik berikutnya terletak pada upaya NasDem Gorontalo membangun fondasi ekonomi partai yang mandiri. Melalui program Dana Abadi Rakyat Gorontalo, DPW NasDem Gorontalo meluncurkan terobosan dengan menggabungkan kekuatan politik dan instrumen wakaf untuk membangun kesejahteraan jangka panjang. Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) bersama Lembaga Wakaf Doa Bangsa (LWDB) di Sukabumi menjadi momentum lahirnya model baru pengelolaan dana sosial berbasis wakaf dalam ranah politik daerah. Dana ini dirancang bukan sebagai program jangka pendek, melainkan sebagai fondasi ekonomi berkelanjutan yang mampu menopang berbagai sektor strategis seperti pendidikan, kesehatan, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Program ini sejalan dengan wasiat yang sering disampaikan Rachmat Gobel kepada para kader NasDem Gorontalo, sebagaimana diungkapkan Sekretaris DPW NasDem Gorontalo, Ridwan Monoarfa, bahwa program Wakaf Abadi bertujuan untuk membentuk kemandirian kader NasDem, tidak saja untuk membiayai operasional partai, namun juga untuk membantu korban bencana dan kegiatan sosial lainnya. Inisiatif ini menunjukkan bahwa NasDem Gorontalo tidak sepenuhnya bergantung pada pendanaan eksternal atau sumbangan individu. Dengan memiliki sumber daya ekonomi yang dikelola secara produktif dan transparan, partai memiliki daya tahan logistik yang jauh lebih baik dalam menghadapi kontestasi politik jangka panjang.
Kaderisasi Berkelanjutan dan Kapasitas SDM
Logistik partai juga mencakup investasi pada sumber daya manusia. Pada masa kepemimpinan Rachmat Gobel, NasDem Gorontalo secara rutin mengirim kader untuk mengikuti studi banding dan peningkatan kapasitas ke berbagai daerah. Sebanyak 109 kader Partai NasDem dari Provinsi Gorontalo diberangkatkan ke Jakarta, Sukabumi, dan Bandung untuk mempelajari strategi pengembangan UMKM serta pengelolaan sampah modern yang membuka lapangan kerja. Seluruh biaya kegiatan ini—mulai dari tiket pesawat, akomodasi hotel, hingga transportasi selama kunjungan—ditanggung secara pribadi oleh Rachmat Gobel, tanpa menggunakan dana partai ataupun sponsor. Dedikasi yang ditunjukkan Rachmat dalam membina kader NasDem di Gorontalo menjadi fondasi penting bagi kapasitas organisasi partai yang lebih kuat di masa depan.
Investasi pada kader ini diperkuat melalui konsolidasi organisasi yang tengah berjalan di bawah kepemimpinan Indrawati Gobel. DPP NasDem menekankan konsolidasi dengan memperkuat struktur partai mulai dari tingkat DPW, DPD, DPC hingga Dewan Pimpinan Ranting, serta meninjau dan memverifikasi sekitar 8.451 kader untuk memastikan organisasi memiliki data kader yang tertib dan mendukung efektivitas kerja politik di setiap tingkatan. Penataan administrasi semacam ini merupakan bentuk logistik organisasi yang memungkinkan partai bergerak secara terukur, terstruktur, dan efisien dalam menghadapi Pemilu 2029.
Infrastruktur Fisik sebagai Pusat Mobilisasi Logistik
Dimensi lain yang tidak kalah penting adalah ketersediaan infrastruktur fisik sebagai pusat kegiatan partai. Gedung DPW NasDem Gorontalo yang terdiri dari tiga lantai dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang untuk umum, seperti kafe restorasi dan perpustakaan yang dapat dikunjungi masyarakat sekitar. Terdapat juga videotron berukuran 8 x 16 meter sebagai sarana sosialisasi pesan partai, yang bahkan dapat dipakai secara gratis oleh pemerintah daerah, Polri, TNI, dan KPU untuk berbagi program. Konsep ini sengaja dihadirkan agar masyarakat merasa dekat dengan partai dan tidak melihat politik sebagai sesuatu yang berjarak dari kehidupan sehari-hari.
Infrastruktur fisik yang representatif ini tidak hanya berfungsi sebagai simbol kehadiran partai, tetapi juga menjadi simpul logistik untuk kegiatan kaderisasi, konsolidasi, dan mobilisasi politik. Kantor yang terbuka bagi masyarakat menciptakan ruang interaksi yang memperkuat hubungan partai dengan konstituen—sebuah bentuk logistik sosial yang mengubah kantor partai dari sekadar markas politik menjadi pusat komunitas yang hidup.
Menuju Pemilu 2029: Logistik Sebagai Pilar Peluang Dua Kursi
Menjelang Pemilu 2029, NasDem Gorontalo terus memanaskan mesin partai. Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) dan pelantikan pengurus DPW NasDem Provinsi Gorontalo menjadi ajang konsolidasi internal sekaligus penyusunan arah langkah partai dalam menghadapi kontestasi mendatang. NasDem Gorontalo juga berkomitmen mempertahankan wilayah tersebut sebagai basis suara yang kuat, dengan Wakil Ketua Umum Saan Mustopa menegaskan bahwa keteladanan Rachmat Gobel justru menjadi pemantik semangat bagi para kader.
Dengan jaringan saksi yang terlatih hingga ke setiap TPS, fondasi ekonomi partai yang mulai mandiri melalui Dana Abadi, kaderisasi berkelanjutan yang menyentuh ribuan kader, serta infrastruktur fisik yang berfungsi sebagai pusat mobilisasi, NasDem Gorontalo memiliki perangkat logistik yang jauh lebih matang dibandingkan banyak partai lain di daerah. Stabilitas logistik inilah yang menjadi salah satu kunci mengapa peluang meraih dua kursi DPR RI pada 2029 tetap terbuka lebar—bahkan ketika figur sentral yang selama ini menjadi pusat gravitasi elektoral telah tiada. Warisan Rachmat Gobel memang tidak dapat dipindahkan melalui surat keputusan semata, tetapi mesin logistik yang ia bangun telah mengakar cukup dalam untuk menjadi fondasi bagi perjuangan politik NasDem Gorontalo di masa yang akan datang.