Editorial:
Pemilihan Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi Gorontalo telah selesai. Andi Ilham meraih 29 suara, Fauzan Muhammad 24 suara, dan 1 suara rusak. Selisih tipis memang, tetapi respons beberapa kelompok politik dan personal terhadap hasil ini justru terasa dan terlihat berlebihan,Lebay…
Di beberapa media dan Medsos, beredar narasi yang seolah ingin menjatuhkan Fadel Muhammad. Padahal, kontestasi ini hanyalah bagian dari proses internal Kadin untuk kembali normal dan utuh setelah sebelumnya carut marut dan mengalami perpecahan dan Stagnasi (vakum).
Menjadikan pemilihan ketua Kadin sebagai panggung propaganda politik adalah kekeliruan besar, karena Kadin bukan partai politik, bukan pilkada, dan bukan arena perebutan kekuasaan elektoral seperti pileg dan pilkada.
Kadin adalah organisasi wirausaha dan perdagangan dengan mitra pemerintah. Orientasi utamanya adalah memperkuat dunia usaha, memperjuangkan kepentingan pengusaha, dan membangun ekosistem ekonomi daerah.
Pemilihan ketua adalah mekanisme internal untuk konsolidasi organisasi, bukan kompetisi politik terbuka yang melibatkan massa luas. Jumlah pemilihnya terbatas, prosesnya tertutup, dan suaranya hanya puluhan,Hanya 54 suara,Karena itu Hasil ini tidaklah mungkin dijadikan indikator Sebagai Kekalahan Fadel Muhammad,Sangat jauh tdan tidak nyambung .
membandingkan hasil 29 berbanding 24 suara dengan perolehan suara Elektoral Fadel Muhammad dalam pemilu legislatif atau pilkada adalah kesalahan logika yang sangat mendasar dan Lucu serta Menggelikan. Sangat tidak Tidak “apple to apple” alias Pakusa ,ba paksa Skali menurut ti Ka Uma, ka Uma merupakan Pengunjung Setia Warkop le Dino.
Fauzan Muhammad memang anak Fadel Muhammad. Tetapi Fauzan dan Fadel adalah dua entitas politik yang berbeda. Kekalahan tipis Fauzan di Kadin tidaklah menjadi indikator kekalahan Fadel,Karna Model Pemilihannya berbeda.
Fadel Muhammad sudah sangat populer di Gorontalo. Saat maju sebagai anggota DPR RI, suaranya mencapai sekitar 300.000 lebih dan menghasilkan dua kursi DPR RI. Saat maju pilkada, suaranya juga sangat besar. Begitu pula saat maju DPD RI, ia meraih sekitar 200.000 suara. Rekam jejak elektoral seperti itu tidak bisa dihapus hanya karena anaknya kalah tipis dalam pemilihan internal organisasi yang pemilihnya hanya puluhan orang saja dan tertutup.
Narasi yang menyebut “Fadel kalah” adalah narasi yang terlalu dipaksakan dan lebay,alias Pakusa kata Warga Warung kopi didekat jembatan Biawu. Fauzan masih muda, baru muncul dan terlihat di Gorontalo, serta masih dalam tahap pembelajaran. Ia tidak melakukan konsolidasi sejak awal. Sementara saingannya sudah melakukan lobi-lobi habis-habisan, dengan modal dan logistik besar. Fauzan Muhammad baru sekitar beberapa hari datang menjelang Acara Musprov Kadin namun konstelasi suara langsung berubah. Awalnya pendukung Fauzan hanya beberapa orang, tetapi kedatangan Fadel Muhammad membuat dukungan berpindah ke Fauzan. Ini justru membuktikan bahwa pengaruh Fadel Muhammad masih sangat kuat di Gorontalo. Ia tidak memakai “kuti-kuti” atau “ba siram” sebagaimana kata orang Gorontalo, tetapi magnet politiknya sudah luar biasa. Bayangkan jika instrumen itu digunakan,Bayangkan kalau Fadel pake Kuti kuti atau Ba Siram? Apa yang terjadi,Fauzan pasti sudah menang mutlak,Depe suara tahede-hede kata Warga Warung kopi.Namun Sayang,Fadel tak biasa menggunakan itu,Sepertinya Fadel tidak ingin Merusak Tradisi Kejujuran dalam Kadin dan Seperti Fadel sedang Mendidik Fauzan agar mendapat Pengalaman dan Semangat Berjuang dan Bertarung dengan tangan Kosong,Belum menggunakan Senjata.
Dalam prosesi kompetisi calon ketua Kadin Gorontalo tahun ini Sebagian pengamat politik lokal analisisnya lemah karena tidak mengikuti prosesi lebih dekat dan mendalam,Infonya tidak faktual dan tidak mengamati kompetisi di lapangan. Mereka hanya melihat hasil akhir, lalu menyimpulkan bahwa Fadel Muhammad telah kehilangan pengaruh. Padahal, membaca Kadin dengan kacamata pilkada atau pileg adalah kekeliruan kategori. Kadin tak bisa memenangkan pilkada. Kadin tak mampu menjadi mesin politik saat pilkada atau pileg. Malah mesin relawan atau organisasi mahasiswa sering lebih kuat dalam kontestasi elektoral. Jadi, sangat konyol jika ada yang menganggap Kadin sebagai kendaraan politik praktis.
Yang lebih menyedihkan, di tengah kondisi Kadin Gorontalo yang ingin kembali normal dan utuh, justru muncul propaganda yang memecah belah. Seharusnya, setelah pemilihan selesai, semua pihak,ketua terpilih, dan seluruh konstituen Kadin duduk bersama membangun organisasi. Kadin harus fokus pada agenda ekonomi, bukan politisasi.
Jika Kadin dipandang sebagai kompetisi politik mirip pilkada, maka organisasi ini akan terus terjebak dalam konflik politik yang tidak produktif.
Terlalu Lebay ,Nora dan Pakusa jika Selisih tipis 29–24 dan satu suara rusak ini dijadikan alat untuk menghancurkan citra Fadel,Masyarakat Gorontalo akan Tertawa Lucu,begitupun orang orang pintar yang paham kondisi,dia pasti akan tertawa terbahak bahak mendengar ini.
Fadel Muhammad tetaplah figur yang populer dan berpengaruh di Gorontalo. Sebaliknya, Fauzan Muhammad adalah kader muda yang masih dalam proses belajar. Yang dibutuhkan sekarang bukan propaganda, melainkan rekonsiliasi. Kadin Gorontalo harus dikembalikan pada jati dirinya, rumah bagi pengusaha, mitra pemerintah, dan motor penggerak ekonomi daerah,bukan arena politik praktis yang saling menjatuhkan,Berpolitik ada Ruangnya sendiri dan tanggalnya ,yaitu 2029 nanti,buktikanlah disitu…