Editorial:
Gorontalo – Sebuah catatan sejarah baru lahir dari pelosok Gorontalo. Gubernur Gorontalo, Dr. Gusnar Ismail, menjadi gubernur pertama yang berhasil menembus Desa Pinogu, sebuah kawasan yang selama ini dikenal terisolasi di kaki Gunung Gambuta dan Gunung Ali, Keberhasilan itu bukan datang dari jalan mulus atau kendaraan mewah, melainkan dari keberanian menantang medan ekstrem dengan menggunakan ojek motor trail milik warga setempat.
Perjalanan menuju Pinogu memang bukan perkara biasa. Rute yang harus dilalui melewati hutan rimba yang masih lebat, dengan jalan terjal, sempit, berbatu, dan licin. Tanjakan curam serta lumpur menjadi tantangan yang tidak bisa dianggap remeh. Di balik kemudi, para pengemudi ojek trail lokal memegang peranan penting. Ketelitian, pengalaman, dan naluri mereka terhadap medan menjadi kunci agar perjalanan tetap aman dan lancar. Gubernur Gusnar pun seolah menitipkan keselamatan kepada kepiawaian para sopir ojek yang sudah hafal betul karakter jalan menuju Pinogu.
Namun, di balik terjalnya rimba itulah sejarah dicetak. Kehadiran Gubernur Gusnar di Pinogu bukan sekadar kunjungan seremonial. Ekspedisi ini menjadi langkah penting untuk menginventarisasi kekayaan dan keindahan alam Gorontalo, khususnya di sektor pertanian, ekonomi wisata, dan budaya. Pinogu menyimpan potensi yang selama ini belum sepenuhnya tergarap karena keterbatasan akses. Alamnya yang masih asri, budaya masyarakatnya yang khas, serta hasil pertanian yang melimpah menjadi aset berharga yang menunggu sentuhan pembangunan.
Dalam kunjungan tersebut, Gubernur Gusnar melihat langsung bagaimana sulitnya kehidupan warga, terutama para petani, untuk mengangkut hasil pertanian mereka ke Suwawa. Jalan yang ada belum memadai, sehingga biaya dan waktu tempuh menjadi beban tersendiri. Kondisi ini membuat hasil bumi Pinogu sulit bersaing dan ekonomi warga bergerak lambat. Kesulitan itulah yang kemudian mendorong lahirnya rencana besar: membangun jalan motor yang lebih baik dari Desa Tulabolo, Suwawa, menuju Desa Pinogu.
Rencana pembangunan jalan sepanjang 41 kilometer itu menjadi harapan baru bagi warga Pinogu. Dengan akses yang lebih layak, para petani diharapkan tidak lagi kesulitan mengantar hasil pertanian mereka ke Suwawa. Selain itu, perjalanan wisata ke Pinogu akan semakin mudah, sehingga potensi ekonomi wisata dan budaya bisa lebih cepat dikenal dan dinikmati oleh wisatawan. Jika jalan ini terwujud, bukan hanya Pinogu yang akan merasakan manfaatnya, tetapi juga Suwawa sebagai pusat perekonomian di sekitarnya.
Dengan adanya jalan ini, diharapkan perekonomian warga Pinogu dan Suwawa bisa terjadi percepatan untuk tumbuh dan berkembang, menjadi pesan optimisme yang menyertai ekspedisi tersebut. Pembangunan jalan bukan hanya soal infrastruktur, melainkan soal membuka pintu kesejahteraan, memperpendek jarak antara desa dan kota, serta memastikan tidak ada wilayah yang tertinggal.
Masyarakat Pinogu menyambut kedatangan Gubernur Gusnar dengan rasa syukur dan terima kasih. Mereka menilai perhatian khusus terhadap jalan warga Pinogu adalah bukti kehadiran pemerintah yang selama ini mereka tunggu. Selama bertahun-tahun, Pinogu seperti permata yang tersembunyi di balik rimba; indah, kaya, tetapi sulit dijangkau. Kini, melalui ekspedisi Gubernur Gusnar, harapan itu kembali menyala.
Di balik terjalnya rimba Pinogu, Gubernur Gusnar Ismail tidak hanya mencetak sejarah sebagai gubernur pertama yang berhasil menembus kawasan tersebut. Ia juga meninggalkan pesan bahwa pembangunan harus menjangkau hingga pelosok, sekalipun harus melewati hutan rimba dan jalan yang ekstrem. Sebab, di ujung perjalanan yang berat itu, ada warga yang menanti, ada hasil bumi yang menunggu diangkut, dan ada masa depan yang perlu diperjuangkan.
Ekspedisi Pinogu menjadi simbol keberpihakan pada daerah pinggiran. Sejarah tidak hanya tentang menjadi yang pertama, tetapi tentang apa yang dilakukan setelahnya. Dan dari balik rimba yang terjal, Gubernur Gusnar Ismail telah membuka jalan menuju harapan baru bagi Pinogu, Suwawa, dan Gorontalo.