Editorial:
Penghargaan yang disematkan di dada bukan sekadar logam dengan nama dan tanda jasa. Di baliknya ada waktu yang pernah dikorbankan, langkah yang pernah ditempuh, dan kesetiaan yang mungkin tak selalu terlihat oleh banyak mata.
Sebab pengabdian jarang mencari sorotan. Ia tumbuh dalam kesunyian, bekerja ketika yang lain berhenti, dan bertahan bahkan ketika tidak ada tepuk tangan.
Di Bumi Perkemahan Bongohulawa, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo, Sabtu (29/8/2026), sebanyak 25 anggota dan pengurus Gerakan Pramuka menerima penghargaan dalam upacara peringatan HUT ke-65 Pramuka. Penghargaan itu terdiri atas Darma Bakti, Karya Bakti, dan Satya Lencana Gerakan Pramuka.
Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail, selaku Ketua Majelis Pembimbing Daerah (Mabida) Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka, menyematkan tanda penghargaan kepada para penerima.
Di hadapan mereka, Gusnar menyampaikan terima kasih atas pengabdian yang telah diberikan melalui Gerakan Pramuka.
“Kepada seluruh penerima penghargaan, saya mengucapkan selamat dan terima kasih atas pengabdian yang telah diberikan. Semoga penghargaan ini menjadi motivasi untuk terus berkarya dan memberikan pengabdian terbaik. Selamat Hari Pramuka ke-65 tahun 2026. Salam Pramuka!” ucap Gusnar saat menjadi pembina upacara.
Tetapi sebuah peringatan hari jadi tidak semestinya hanya menjadi kalender yang berulang setiap tahun. Ia seharusnya menjadi cermin: sudah sejauh mana sebuah gerakan menjaga nilai yang diwariskan kepadanya?
Enam puluh lima tahun bukan usia yang pendek. Zaman telah berubah berkali-kali. Anak-anak yang dahulu belajar membaca arah angin di bawah rindangnya pepohonan kini hidup dalam dunia yang bergerak melalui layar, data, dan jaringan digital.
Namun manusia tetap membutuhkan nilai yang sama: disiplin untuk menjaga langkah, kemandirian untuk menentukan arah, kepedulian untuk melihat sesama, dan pengabdian untuk bekerja melampaui kepentingan diri sendiri.
Karena itu, penghargaan tidak boleh dipahami sebagai garis akhir. Ia justru semacam penanda jalan—bahwa seseorang pernah berbuat baik dan karena itu diharapkan terus berbuat baik.
Pada peringatan yang sama, Gubernur Gusnar Ismail bersama Wakil Gubernur Idah Syahidah Rusli Habibie menerima Kartu Tanda Anggota (KTA) elektronik dari perwakilan pengurus Kwartir Nasional (Kwarnas) Gerakan Pramuka.
Di sinilah zaman mengetuk pintu organisasi.
Pramuka yang lahir dari tradisi pendidikan karakter dan kegiatan lapangan kini harus berjalan berdampingan dengan dunia digital. KTA yang dahulu hadir dalam bentuk kartu fisik mulai bergerak menuju sistem elektronik yang memungkinkan pendataan anggota dilakukan secara lebih terintegrasi.
Kwarnas mendorong seluruh anggota, pengurus, pelatih, dan pembina Pramuka di semua tingkatan memiliki KTA elektronik melalui aplikasi AyoPramuka Kwarnas.
Kartu itu bukan hanya tanda pengenal. Ia juga dapat berfungsi sebagai uang elektronik atau e-money melalui kerja sama dengan Bank Mandiri maupun perbankan lainnya.
Tetapi di balik perubahan bentuk itu ada pertanyaan yang lebih penting: apakah digitalisasi hanya akan mengubah cara Pramuka mencatat anggotanya, atau juga mengubah cara organisasi itu bekerja dan melayani?
Teknologi pada akhirnya hanyalah alat. Ia tidak memiliki nilai dengan sendirinya. Manusialah yang memberikan arah kepadanya.
Data yang rapi memang penting. Aplikasi yang baik tentu diperlukan. Sistem yang terintegrasi akan memudahkan organisasi bekerja. Tetapi semua itu tidak akan berarti banyak apabila kehilangan jiwa yang seharusnya dijaga.
Pramuka boleh berpindah dari buku ke layar. Dari kartu fisik ke kartu elektronik. Dari administrasi manual menuju sistem digital.
Namun satu hal tidak boleh ikut didigitalisasi hingga kehilangan maknanya: pengabdian.
Pengabdian bukan data. Ia bukan angka dalam sistem. Ia adalah keberanian untuk hadir ketika dibutuhkan, kesediaan membantu ketika orang lain kesulitan, dan ketulusan melakukan sesuatu tanpa selalu menunggu penghargaan.
Karena itu, HUT ke-65 Pramuka semestinya bukan hanya tentang usia sebuah organisasi.
Ia adalah tentang api yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Api itu boleh diterangi teknologi. Boleh dijaga dengan sistem yang lebih modern. Tetapi jangan sampai cahayanya kehilangan panas.
Sebab zaman boleh berubah, kartu boleh menjadi elektronik, dan dunia boleh bergerak semakin cepat.
Tetapi selama masih ada manusia yang bersedia mengabdi, Pramuka tidak akan kehilangan jalannya.