KABUPATEN GORONTALO – Wakil Ketua DPRD Kabupaten Gorontalo, Roman Nasaru, meminta Balai Wilayah Sungai (BWS) II Gorontalo memberikan perhatian serius terhadap kerusakan di sejumlah titik daerah aliran sungai yang mengancam infrastruktur jembatan, badan jalan, hingga permukiman warga di Kecamatan Bongomeme, Dungaliyo, dan Tabongo.
Aspirasi tersebut disampaikan Roman Nasaru saat melakukan pertemuan dengan Kepala BWS II Gorontalo beserta jajarannya pada Rabu, 21 Oktober 2026, pukul 13.00 WITA. Pertemuan itu merupakan tindak lanjut dari hasil kunjungan lapangan dan penyerapan aspirasi masyarakat ketika anggota DPRD melaksanakan reses beberapa bulan sebelumnya.
Dalam pertemuan tersebut, Roman hadir bersama anggota DPRD dari Daerah Pemilihan (Dapil) IV, Novalandi Ghani dari Fraksi PDI Perjuangan, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Gorontalo, serta sejumlah camat, yakni Camat Bongomeme, Camat Dungaliyo, dan Camat Tabongo.
Roman menjelaskan, terdapat beberapa lokasi yang membutuhkan penanganan segera, di antaranya kawasan Jembatan Upomela, jembatan di Dusun Tupungo, Desa Pilulalenga, serta jembatan di wilayah Desa Bongomeme.
Menurutnya, persoalan tersebut tidak bisa dipandang sebagai kerusakan infrastruktur biasa. Perubahan aliran sungai yang semakin melebar telah menimbulkan ancaman terhadap badan jalan, jembatan, dan keselamatan masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai.
“Kami dari DPRD Kabupaten Gorontalo menyampaikan aspirasi masyarakat terkait kerusakan di sekitar Jembatan Upomela, Desa Pilulalenga, dan Desa Bongomeme. Lokasi-lokasi ini kami kunjungi saat melaksanakan reses beberapa bulan lalu, dan kondisinya membutuhkan penanganan serius,” ujar Roman.
Ia mengakui, kemampuan anggaran pemerintah daerah masih terbatas untuk menangani kerusakan yang terjadi di sejumlah titik tersebut. Karena itu, koordinasi dengan BWS II Gorontalo dinilai penting agar penanganan dapat dilakukan sesuai kewenangan dan kebutuhan teknis di lapangan.
Jembatan Upomela Terancam Gerusan Sungai
Salah satu lokasi yang menjadi perhatian utama adalah kawasan Jembatan Upomela di Kecamatan Bongomeme. Roman mengungkapkan, setiap kali hujan deras mengguyur wilayah tersebut, aliran sungai berpotensi meningkat dan menyebabkan banjir.
Kondisi itu diperparah oleh aliran sungai yang terus melebar sehingga menggerus bagian tepi sungai dan mengakibatkan badan jalan di sekitar jembatan mengalami amblas.
Jika tidak segera ditangani, kerusakan tersebut dikhawatirkan semakin meluas dan mengganggu akses masyarakat. Karena itu, Roman berharap BWS II Gorontalo dapat melakukan kajian teknis sekaligus mengambil langkah penanganan yang diperlukan untuk mengendalikan gerusan sungai dan melindungi infrastruktur di kawasan tersebut.
Menurutnya, penanganan tidak cukup hanya dilakukan setelah kerusakan semakin parah. Upaya pencegahan perlu menjadi perhatian agar masyarakat tidak terus-menerus menghadapi ancaman banjir dan kerusakan jalan setiap musim hujan.
Rumah Warga dan Makam Terancam di Pilulalenga
Kondisi yang tidak kalah memprihatinkan terjadi di Desa Pilulalenga, khususnya di Dusun Tupungo. Roman menyebutkan, gerusan aliran sungai di kawasan tersebut telah menyebabkan sejumlah rumah terdampak, bahkan terdapat makam warga yang harus dievakuasi karena terancam tergerus air.
Ia juga mengungkapkan bahwa sedikitnya tiga rumah berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan apabila hujan deras kembali memicu banjir dan meningkatkan arus sungai.
Situasi ini, menurut Roman, membutuhkan perhatian segera karena menyangkut keselamatan warga dan perlindungan terhadap tempat tinggal mereka. Penanganan yang terlambat berpotensi menimbulkan kerugian lebih besar, terutama jika gerusan sungai terus mendekati kawasan permukiman.
DPRD Kabupaten Gorontalo berharap pihak BWS II dapat meninjau langsung kondisi tersebut untuk menentukan langkah teknis yang tepat, sehingga ancaman terhadap rumah warga dan lingkungan sekitarnya dapat diminimalkan.
Sementara itu, jembatan di Desa Bongomeme, Kecamatan Dungaliyo, juga dilaporkan telah cukup lama mengalami kerusakan. Kondisi tersebut menambah daftar persoalan infrastruktur yang membutuhkan perhatian lintas instansi.
Dorong Penanganan Terpadu
Roman menegaskan, pertemuan dengan BWS II Gorontalo merupakan bagian dari upaya DPRD memperjuangkan aspirasi masyarakat agar persoalan yang selama ini dikeluhkan tidak berhenti pada laporan saat reses.
Ia berharap koordinasi antara pemerintah daerah, DPRD, pemerintah kecamatan, dan BWS II Gorontalo dapat menghasilkan langkah konkret untuk menangani kerusakan di kawasan daerah aliran sungai.
“Kami berharap ada perhatian dari BWS II Gorontalo untuk mengatasi kerusakan-kerusakan yang terjadi di daerah aliran sungai, khususnya di sekitar Jembatan Upomela, Desa Pilulalenga, dan Desa Bongomeme,” tegasnya.
Bagi Roman, penanganan persoalan tersebut bukan semata-mata menyangkut perbaikan jembatan atau badan jalan, melainkan juga perlindungan terhadap keselamatan warga, permukiman, dan lingkungan di sekitarnya.
DPRD Kabupaten Gorontalo berharap aspirasi yang telah disampaikan mendapat tindak lanjut melalui peninjauan lapangan, kajian teknis, dan penetapan langkah penanganan sesuai kewenangan masing-masing instansi.
Dengan demikian, ancaman banjir dan gerusan sungai yang berulang setiap musim hujan dapat diantisipasi lebih dini, sehingga masyarakat di Kecamatan Bongomeme, Dungaliyo, dan Tabongo tidak terus dibayangi risiko kerusakan infrastruktur maupun kehilangan tempat tinggal.