Editorial:
Pinogu, Gorontalo – Perjalanan menembus rimba Pinogu bukanlah perjalanan biasa. Medan terjal, jalan sempit, serta hutan yang masih rapat menjadi ujian tersendiri bagi siapa pun yang hendak masuk ke kawasan ujung timur Gorontalo itu. Namun bagi Gubernur Gorontalo, Dr. Gusnar Ismail, kehadiran di tengah masyarakat jauh lebih penting daripada beratnya perjalanan. Pada 22 hingga 23 September 2026, ia bersama rombongan menempuh jalur darat sekitar empat jam untuk sampai ke Kecamatan Pinogu, Kabupaten Bone Bolango.
Kunjungan itu bukan sekadar seremonial. Gubernur Gusnar hadir untuk menyentuh langsung denyut kehidupan warga, mulai dari dunia pendidikan hingga ruang spiritual. Di Pinogu, ia meninjau pembangunan dan rehabilitasi gedung SMAN 1 Pinogu. Sekolah itu menjadi simbol harapan bagi generasi muda di wilayah terisolir, tempat anak-anak Pinogu menimba ilmu dan merajut cita-cita. Kehadiran gubernur di sana memberi pesan bahwa pendidikan di pelosok tidak boleh tertinggal, sekalipun akses menuju kampung mereka harus ditempuh dengan susah payah.
Dalam kunjungan tersebut, Gubernur Gusnar juga menyerahkan bantuan beras dari Cadangan Pangan Pemerintah serta bantuan ikan segar untuk warga. Bantuan itu bukan hanya soal bahan pangan, melainkan bentuk nyata kehadiran negara di tengah kesulitan. Warga Pinogu menyambut hangat kedatangan orang nomor satu di Gorontalo itu. Bagi mereka, kedatangan seorang gubernur ke kampung yang jauh dari pusat pemerintahan adalah kebahagiaan yang tidak setiap saat terjadi.
Setelah menyapa dunia pendidikan, Gubernur Gusnar melanjutkan kunjungannya ke Masjid Jami setempat untuk menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Di rumah ibadah itu, suasana haru dan syukur menyatu. Peringatan Maulid bukan hanya ritual tahunan, tetapi menjadi ruang berkumpulnya warga, guru, tenaga kesehatan, dan tokoh masyarakat. Gubernur hadir di tengah mereka, berbaur, mendengarkan, dan menyerap aspirasi yang selama ini mungkin sulit tersampaikan ke pusat.
Dalam kesempatan itu, Gubernur Gusnar berinteraksi langsung dengan para guru dan tenaga kesehatan. Mereka menyampaikan harapan tentang peningkatan layanan pendidikan dan kesehatan di Pinogu. Dialog itu menjadi bukti bahwa pembangunan tidak cukup hanya berbicara soal jalan dan bangunan, tetapi juga tentang manusia, ilmu, dan kesehatan. Kehadiran gubernur di tengah warga menjadi penegas bahwa Pinogu bukan wilayah yang terlupakan.
Tidak hanya itu, kegiatan penanaman pohon turut dilakukan sebagai wujud kepedulian terhadap lingkungan dan penghijauan wilayah Pinogu. Menanam pohon berarti menitipkan kehidupan kepada masa depan. Di tanah Pinogu yang subur, pohon-pohon itu menjadi simbol harapan agar alam tetap lestari, air tetap mengalir, dan generasi mendatang tetap mewarisi bumi yang hijau.
Ada pula peristiwa yang kemudian menjadi buah bibir warga. Kira-kira delapan jam setelah Gubernur Gusnar beserta rombongan kembali dari Pinogu, langit tiba-tiba menurunkan hujan. Air yang jatuh membasahi bumi Pinogu yang telah lama kering disambut sukacita oleh seluruh warga. Musim kemarau panjang telah berbulan-bulan melanda wilayah itu, mengancam tanaman padi di sawah dan hasil kebun warga. Sebagian warga bahkan kesulitan memperoleh air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Bagi masyarakat Pinogu, hujan itu bukan sekadar peristiwa alam. Mereka meyakini kunjungan perdana Khalifah Gorontalo secara adat—dalam hal ini Gubernur Gusnar Ismail—ke daerah itu mendapat ridha dan berkah dari Allah SWT. Masyarakat Pinogu percaya, jika Khalifah orang baik datang, maka hujan akan datang. Keyakinan itu bukanlah mitos kosong, melainkan cara warga membaca hubungan antara kepemimpinan, doa, dan alam.
Kabar turunnya hujan disampaikan langsung oleh Camat Pinogu, Ramdan Mile, S.IP., melalui pesan WhatsApp kepada Gubernur Gusnar. “Assalamu’alaikum wr. wb. Pak Gubernur, mohon izin Pak. Alhamdulillah, setelah kepulangan Bapak, sudah turun hujan di Pinogu. Insya Allah berkah, dan semoga dilancarkan segala urusan,” tulisnya. Pesan sederhana itu menyimpan getar syukur yang dalam. Hujan menjadi penanda bahwa kehadiran pemimpin yang membawa niat baik telah meninggalkan jejak di langit Pinogu.
Kunjungan Gubernur Gusnar ke sekolah dan peringatan Maulid Nabi di Pinogu menjadi potret pembangunan yang lahir dan batin. Di satu sisi, ia meninjau pendidikan dan menyalurkan bantuan bagi warga. Di sisi lain, ia hadir dalam ruang spiritual, berbaur dengan masyarakat, dan mendengarkan harapan mereka. Semua itu dilakukan di wilayah yang masih dikenal terisolir, ditempuh melalui jalan terjal dan hutan rimba.
Kini, harapan itu tumbuh kembali. Warga Pinogu tidak hanya menantikan hujan yang membasahi tanah, tetapi juga jalan yang menghubungkan mereka dengan masa depan. Rencana pembangunan jalan motor sepanjang 41 kilometer dari Desa Tulabolo, Suwawa, menuju Pinogu menjadi asa baru agar hasil pertanian lebih mudah diangkut dan wisata lebih mudah berkembang. Dengan perhatian yang terus hadir, Pinogu berharap dapat melangkah lebih cepat menuju kesejahteraan.
Di ujung timur Gorontalo, di balik terjalnya rimba dan panjangnya perjalanan, Gubernur Gusnar Ismail telah mencetak sejarah. Ia datang, menyapa sekolah, menghadiri Maulid, menebar bantuan, menanam pohon, dan mendengarkan warga. Dan ketika langit kemudian menurunkan hujan, warga Pinogu membaca itu sebagai berkah: bahwa pemimpin yang hadir dengan niat baik akan selalu menemukan tempatnya di hati rakyat dan di ruang sakral alam.