Warung Kopi:
Di sebuah warung kopi di pinggir jalan, tepatnya di sudut Kota Gorontalo, aroma kopi robusta bercampur dengan asap rokok kretek. Beberapa lelaki paruh baya duduk melingkar, topik hangat sedang diperbincangkan: KADIN. Bukan “kadin” dalam arti perempuan, melainkan Kamar Dagang dan Industri. Nama itu kini tengah trending di media lokal Gorontalo dan di sudut sudut Warung Kopi. Entah ada perhelatan apa, entah ada janji-janji investasi apa, yang jelas KADIN menjadi buah bibir.
Namun, ada yang mengganjal. Salah seorang dari mereka, Pak Umar alias Ka Uma, mengangkat cangkir kopinya, lalu berkata dengan logat Gorontalo yang kental, “KADIN? Kamar Dagang Industri? Astaga, dari namanya saja sudah salah. Kita ini orang Gorontalo, kalau berdagang itu di pasar, sambil teriak-teriak ,kadang pake Toa menawarkan barang. Masak iya, kita berteriak di dalam kamar?”
Warung kopi pun meledak dalam tawa. Tapi tawa itu bukan sekadar tawa.orang Gorontalo memang kalo berdagang berada di Tempat terbuka,di pasar,di pinggir jalan dan ditanah lapang,wajar jadi aneh jika berdagang didalam kamar,kalo teriak teriak pake Toa nanti dianggap orang gila oleh tetangga.
Ada kebenaran budaya yang tersirat di dalamnya. Mari kita bedah.
KADIN: Akronim yang Asing di Telinga Masyarakat Gorontalo
Secara resmi, KADIN adalah singkatan dari Kamar Dagang dan Industri. Sebuah lembaga yang menaungi pengusaha, memperjuangkan kebijakan ekonomi, dan menjadi jembatan antara dunia usaha dan pemerintah. Di Jakarta, KADIN adalah nama besar. Di Gorontalo? Mungkin hanya segelintir orang yang tahu. Bukan karena Gorontalo anti-pengusaha, tapi karena kata “Kamar” itu sendiri sudah menciptakan jarak.
Bayangkan, kata “kamar” dalam bahasa Indonesia berarti ruangan tertutup, tempat kita tidur, tempat kita berganti pakaian, tempat kita menyimpan rahasia. Di Gorontalo, “kamar” juga berarti kamar. Tidak ada yang salah dengan kata itu. Tapi ketika disandingkan dengan “dagang”, muncul disonansi kognitif. Dagang itu identik dengan keramaian, dengan pasar, dengan teriakan. Sedangkan kamar itu sunyi, sepi, tertutup.
Orang Gorontalo mengenal budaya “mohulo” – berteriak menawarkan barang. Di pasar sentral, para pedagang ikan, sayur, dan rempah-rempah saling bersahutan. “Ikan segar! Ikan segar! Tiga ekor sepuluh ribu!” Teriakan itu bukan sekadar jualan, tapi sebuah seni. Ada irama, ada nada, ada jiwa. Bagaimana mungkin seni berteriak itu dipindahkan ke dalam kamar? Kamar itu untuk tidur, bukan untuk berdagang.
Filosofi Dagang Orang Gorontalo: Teriak atau Tenggelam
Bagi orang Gorontalo, berdagang adalah pertarungan hidup dan mati. Tidak ada waktu untuk duduk manis di dalam kamar. Kalau mau laku, ya harus berteriak. Di pasar, siapa yang paling lantang, dialah yang paling laku. Ini bukan sekadar soal volume suara, tapi soal keberanian, kepercayaan diri, dan semangat. Orang Gorontalo punya pepatah, “Tā mongoli, tā mongoli” – yang berani, dia yang dapat.
Jadi, ketika KADIN hadir dengan konsep “kamar”, orang Gorontalo bertanya-tanya: Apakah kami harus berdagang dengan cara berbisik-bisik di dalam ruangan? Apakah kami harus menawarkan barang lewat surat menyurat, bukan lewat teriakan? Tentu saja tidak. Ini bukan soal menolak modernitas, tapi soal identitas.
Komedi di Warung Kopi: KADIN vs. Kadin
Yang membuat diskusi di warung kopi semakin lucu adalah plesetan kata. “KADIN” dalam bahasa Indonesia berarti Kamar Dagang dan Industri. Tapi dalam bahasa Gorontalo, “kadin” bisa terdengar seperti “kadın” (perempuan) dalam bahasa Turki, atau “kadin” yang berarti “kamar” dalam bahasa Indonesia. Jadi, ketika seseorang berkata, “Saya mau masuk KADIN,” yang lain langsung tertawa. “Masuk KADIN? Kamar siapa? Kamar dagang? Kamar industri? Kamar mandi?”
Tentu ini lebay. Tapi di warung kopi, lebay adalah bumbu penyedap. Pak Umar kembali berkomentar, “Kalau KADIN mau dikenal di Gorontalo, ganti saja namanya. Jangan Kamar Dagang Industri. Ganti jadi ‘Teriak Dagang Industri’. Biar kita semangat. Atau ‘Pasar Dagang Industri’. Itu baru Gorontalo.”
Mengapa KADIN Kurang Familiar di Gorontalo,Kalah dengan Pramuka?
Ada beberapa alasan mengapa KADIN kurang familiar di Gorontalo. Pertama, sosialisasi yang kurang. KADIN lebih banyak berkutat di kota-kota besar, sementara Gorontalo masih dianggap sebagai daerah pinggiran. Kedua, budaya birokrasi yang kaku. Orang Gorontalo lebih suka bergaul di warung kopi daripada di ruang seminar. Ketiga, dan yang paling penting, perbedaan budaya dagang. Orang Gorontalo adalah pedagang pasar, bukan pedagang mall. Mereka butuh wadah yang sesuai dengan kultur mereka.
KADIN, dengan segala formalitasnya, terasa seperti jas yang terlalu ketat untuk tubuh yang terbiasa pakai kaus oblong. Bukan salah KADIN, bukan salah orang Gorontalo. Hanya saja, mereka belum bertemu di titik yang sama.
Ketika Kamar dan Pasar Berdialog
Mungkin suatu hari nanti, KADIN akan lebih dikenal di Gorontalo. Tapi jangan harap orang Gorontalo berhenti berteriak di pasar. Mereka akan tetap berteriak, karena itulah cara mereka berdagang. Mereka akan tetap duduk di warung kopi, karena di sanalah diskusi paling jujur terjadi.
Jika KADIN ingin diterima, jangan datang dengan kata “kamar”. Datanglah dengan kata “pasar”. Jangan ajak mereka rapat di ruangan ber-AC. Ajaklah mereka ngopi di warung. Jangan minta mereka berbisik. Minta mereka berteriak bersama.
Karena pada akhirnya, dagang bukan soal kamar atau industri. Dagang adalah soal keberanian untuk berteriak, dan kecerdasan untuk tahu kapan harus diam. Orang Gorontalo sudah mahir keduanya. Tinggal KADIN yang harus belajar menyesuaikan diri.
Di warung kopi itu, Pak Umar (ka Uma) menutup diskusi dengan kalimat, “KADIN itu penting, tapi jangan sampai kita lupa, bahwa di pasar, yang paling penting adalah teriakan. Kalau KADIN mau masuk Gorontalo, bawa mikrofon dan Toa, bukan kamar.”
Tawa pun kembali pecah. Kopi pun habis.