Gorontalo, 19 September 2026 — Dalam tubuh organisasi mana pun, konflik adalah gejala, bukan penyakit. Ia muncul ketika berbagai kepentingan bertemu, bergesekan, lalu mencari titik keseimbangan baru. Itulah yang terjadi di lingkungan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kota Gorontalo belakangan ini. Ketegangan yang sempat mencuat melalui somasi dan keberatan atas pelaksanaan Musyawarah Kota (MUKOT) akhirnya menemukan jalan keluar. Jasin Mohammad, pihak yang sebelumnya mengajukan keberatan, memilih menarik kembali langkah hukumnya. Bukan karena kalah, melainkan karena menghitung sesuatu yang lebih besar: keberlangsungan organisasi.
Keputusan itu dituangkan dalam surat pernyataan yang ditandatangani Jasin pada 19 September 2026. Surat tersebut secara resmi mencabut Somasi dan Keberatan Nomor 01/SOMASI/2026 yang sebelumnya dialamatkan kepada Ketua/Pengurus KADIN Provinsi Gorontalo. Dalam surat itu pula, Jasin memberi ruang kepada seluruh pihak untuk melanjutkan tahapan organisasi sesuai ketentuan yang berlaku.
Dalam keterangannya, Jasin menyebut alasan utama di balik keputusan tersebut adalah keinginan menjaga kelangsungan agenda yang lebih besar, yakni Musyawarah Provinsi (Musprov) KADIN Gorontalo. Baginya, persoalan yang muncul di tingkat kota tidak semestinya merembet dan mengganggu ritme organisasi di tingkat provinsi. “Pencabutan somasi dan keberatan ini saya lakukan setelah mempertimbangkan kepentingan yang lebih besar, khususnya demi menjaga keberlangsungan proses Musyawarah Provinsi KADIN Gorontalo agar dapat berjalan dengan tertib, kondusif, dan sesuai dengan tujuan organisasi,” ujarnya.
Dari sudut pandang sosiologi organisasi, langkah Jasin adalah contoh klasik bagaimana kepentingan individu diletakkan di bawah kepentingan kolektif. Organisasi, dalam pandangan ini, bukan sekadar wadah formal, melainkan ruang hidup bersama yang di dalamnya setiap anggota memiliki tanggung jawab menjaga kohesi. Konflik tidak dihindari, tetapi dikelola. Ketegangan tidak ditekan, tetapi disalurkan ke jalur yang produktif.
Yang menarik, pencabutan ini tidak dimaknai sebagai kapitulasi. Jasin dengan tegas menyatakan bahwa keputusan tersebut tidak berarti ia mengakui seluruh proses maupun substansi yang sebelumnya menjadi dasar keberatannya. “Pencabutan somasi dan keberatan ini tidak dimaksudkan sebagai pengakuan atau pembenaran terhadap seluruh proses maupun substansi yang sebelumnya menjadi dasar keberatan saya,” katanya. Ia menyebut langkah ini sebagai bentuk itikad baik untuk menjaga kondusivitas, persatuan, dan soliditas organisasi KADIN di Gorontalo. Dengan kata lain, ini bukan soal menang atau kalah, melainkan soal memilih medan pertarungan yang lebih tepat: ruang dialog, bukan ruang konfrontasi.
Surat pencabutan tersebut ditujukan kepada Ketua/Pengurus KADIN Provinsi Gorontalo, dengan tembusan kepada sejumlah pihak strategis: Ketua Umum KADIN Indonesia, Dewan Pertimbangan KADIN Provinsi Gorontalo, Wakil Ketua Umum OKK, Ketua/Pengurus KADIN Kota Gorontalo, panitia penyelenggara MUKOTA, Pemerintah Kota Gorontalo, serta pihak terkait lainnya. Distribusi yang luas ini menunjukkan bahwa pesan yang ingin disampaikan bukan sekadar pesan administratif, melainkan sinyal rekonsiliasi kepada seluruh pemangku kepentingan.
Dalam ekosistem organisasi, kepercayaan adalah mata uang yang paling berharga. Ia tidak bisa dibeli, tetapi bisa dibangun—atau dihancurkan—melalui tindakan nyata. Langkah Jasin, betapa pun sederhananya secara prosedural, adalah upaya merawat kepercayaan itu. Ia memilih tidak memperpanjang ketegangan demi memberi ruang bagi proses yang lebih besar untuk berjalan. Ia menempatkan KADIN, dan dunia usaha Gorontalo secara luas, sebagai perhatian bersama yang harus dijaga di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
Harapan Haji Jasin jelas, dinamika internal organisasi dapat disikapi secara terbuka dan dewasa. Dalam banyak kasus, organisasi yang gagal bukanlah organisasi yang tidak pernah berkonflik, melainkan organisasi yang tidak mampu keluar dari konflik karena tidak ada pihak yang mau mengalah demi kebaikan bersama. Dengan pencabutan somasi ini, Jasin menunjukkan bahwa kematangan berorganisasi diukur dari kemampuan menempatkan kepentingan kolektif di atas ego sesaat.
keputusan ini bukan tentang berakhirnya sebuah persoalan, melainkan tentang dimulainya sebuah babak baru. Babak di mana perbedaan tidak lagi menjadi alasan untuk saling menjauh, melainkan menjadi bahan bakar untuk saling memperkuat. KADIN Gorontalo, dengan segala dinamikanya, sedang belajar menjadi rumah yang lebih dewasa bagi seluruh penghuninya. Dan rumah yang dewasa, sebagaimana organisasi yang sehat, tidak dibangun dari kesamaan, melainkan dari kesediaan untuk hidup bersama meski berbeda.
Pelantikan Kadin Kota Gorontalo direncanakan besok,20/9/2026.