AIR MATA DEMAK,CAHAYA DARI PESISIR. (sebuah Novel,oleh Dulwahab).
Palembang, 1455.
Malam tanpa bulan.
Sungai Musi tidak pernah tidur.
Sejak manusia pertama kali menjejakkan kaki di tepian Sumatera, sungai itu telah mengalir seperti urat tua yang menghidupi pulau. Ia turun dari pedalaman, dari hutan-hutan yang diselimuti kabut, dari kaki gunung yang menyimpan mata air dan rahasia. Ia melewati rawa, dusun, ladang, dan kampung-kampung yang rumahnya berdiri di atas tiang.
Ia melihat perahu-perahu datang dan pergi.Ia melihat pedagang membawa kain dari India, keramik dari Tiongkok, rempah-rempah dari kepulauan yang jauh, dan kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa yang asing bagi telinga penduduk setempat.
Ia mendengar banyak bahasa.Arab,Persia.Melayu.Jawa.Tionghoa.Dan bahasa-bahasa lain yang dibawa angin dari negeri-negeri yang bahkan tidak dikenal oleh orang-orang di hulu.
Sungai tidak pernah bertanya dari mana manusia datang.Ia hanya mengalir.Membawa mereka.Menghubungkan mereka.Menyimpan jejak mereka.
Malam itu, Sungai Musi mengalir lebih gelap dari biasanya.Langit tidak memiliki bulan.Hanya kegelapan yang luas.Tetapi dari arah sungai, angin membawa aroma yang berbeda.
Bukan bau lumpur.Bukan amis ikan.Bukan kayu basah.
Kemenyan.
Aromanya tipis, tetapi nyata.Seperti sesuatu yang datang dari masa yang jauh.Seperti doa yang baru saja dibakar.
Di tepian Sungai Musi berdiri sebuah rumah panggung.
Rumah itu sedikit lebih tinggi daripada rumah-rumah di sekitarnya. Tiang-tiangnya terbuat dari kayu ulin, hitam dan keras, seakan telah dipahat dari tulang bumi. Atapnya rumbia.Dindingnya papan. Sebuah perahu kecil terikat pada tiang di bawah rumah.
Perahu itu bergoyang perlahan.Naik.Turun.Naik.Turun.Mengikuti napas sungai.
Di dalam rumah itu, seorang perempuan terbaring di atas tikar pandan.
Namanya Darawati.Ia berasal dari Champa.
Dari negeri di seberang laut, tempat jalur perdagangan mempertemukan pedagang, pelaut, pendeta, ulama, bangsawan, dan pengembara. Di sana, laut bukan batas. Laut adalah jalan.
Ayahnya seorang raja.Ibunya perempuan bangsawan.Sejak kecil Darawati mengenal suara istana, suara gong, suara langkah para pengawal, dan suara kapal-kapal yang berangkat membawa manusia menuju negeri yang tidak pernah dilihatnya.
Namun hidup tidak selalu meminta izin kepada manusia sebelum mengubah jalan mereka.Darawati datang ke Palembang bukan karena kehendaknya sendiri.Ia datang sebagai bagian dari kehendak politik sebuah zaman.
Dikirim dari Champa.Dibawa menuju Majapahit.Ditempatkan dalam lingkaran kekuasaan Prabu Brawijaya.
Ia pernah disebut selir.Pernah disebut hadiah.Pernah dipandang sebagai jembatan antara dua negeri.Tetapi malam ini semua nama itu tidak berarti.
Di hadapan rasa sakit yang semakin dekat, gelar-gelar manusia menjadi kecil.
Malam ini Darawati bukan selir.Bukan putri Champa.Bukan persembahan.Bukan jembatan diplomasi.Ia hanya seorang perempuan.Seorang ibu.Dan di dalam rahimnya, seorang anak sedang mencari jalan menuju dunia.
Di samping Darawati duduk seorang lelaki tua.Jubahnya putih.Janggutnya telah memutih.Namanya Syekh Hasan.Ia datang dari barat,dari dunia yang jauh di balik lautan, dari wilayah Persia-irak,tempat berbagai cabang pengetahuan Islam berkembang bersama perjalanan para ulama dan keluarga-keluarga para sayyid.
Ia membawa sebuah kitab tua.Sampulnya telah retak.Sudut-sudut halamannya menguning.Tetapi tulisannya masih jelas.
Syekh Hasan membuka kitab itu.Suara bacaannya pelan.Tidak tergesa-gesa.Seperti seseorang yang sedang mengetuk pintu yang sangat tua.
“Kaf, Ha, Ya, ‘Ain, Shad.”
Darawati memejamkan mata.Rasa sakit menjalar dari pinggang ke perut.Syekh Hasan melanjutkan membaca Surah Maryam.
“Ini adalah kisah rahmat Tuhanmu kepada hamba-Nya, Zakaria.”
Napas Darawati tertahan.
Zakaria.
Maryam.
Doa.
Kelahiran.
Kesunyian.
Ia tiba-tiba merasa bahwa kisah yang sedang dibacakan bukan lagi kisah orang lain.
Seolah-olah kitab itu sedang membuka sebuah pintu.Dan di balik pintu itu, ia melihat dirinya sendiri.Seorang perempuan.
Jauh dari negeri kelahirannya.Jauh dari ayahnya.
Jauh dari ibunya.Jauh dari segala sesuatu yang pernah ia sebut rumah.
Syekh Hasan membaca:
“Ketika ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.”
Darawati menarik napas panjang.
Air mata mengalir dari sudut matanya.
Ia teringat Champa.
Laut.
Pelabuhan.
Wajah ayahnya.
Suara ibunya.
Kapal yang membawanya pergi.
Dan malam-malam panjang ketika ia bertanya kepada dirinya sendiri:
Mengapa aku harus datang sejauh ini?
Barangkali manusia baru memahami takdir setelah berjalan terlalu jauh untuk kembali.
Darawati membuka mata.
Langit-langit rumah terlihat buram.
Atap rumbia.Balok kayu.Bayang-bayang pelita.
Tidak ada bulan.Tidak ada bintang.
Namun di dalam dadanya, ada sesuatu yang mulai menyala.
Bukan api.
Bukan cahaya yang dapat dilihat mata.
Melainkan keyakinan kecil yang belum mempunyai nama.
Syekh Hasan melanjutkan:
“Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu.”
Suara lelaki tua itu bergetar.
Ia tidak sekadar membaca ayat.
Ia seperti sedang menghidupkan kembali kesunyian Zakaria.
Dan Darawati tiba-tiba memahami sesuatu:
doa tidak selalu dijawab dengan cara yang kita inginkan.
Kadang-kadang jawaban Tuhan datang melalui jalan yang membuat manusia terlebih dahulu kehilangan.
Kehilangan rumah.Kehilangan keluarga.Kehilangan kepastian.Bahkan kehilangan dirinya sendiri.
Barangkali, pikir Darawati, manusia harus menjadi kosong sebelum mampu menerima sesuatu yang lebih besar daripada dirinya.
Tangannya bergerak menuju perut.
Ia merasakan gerakan kecil di dalamnya.
Seperti ketukan.
Sekali.
Kemudian diam.
Darawati tersenyum.
“Anakku…”
Suaranya hampir tak terdengar.
“Apakah engkau mendengar?”
Syekh Hasan melanjutkan ayat:
“Maka anugerahkanlah kepadaku seorang anak dari sisi-Mu.”
Darawati menangis.
Kali ini bukan karena rasa sakit.
Melainkan karena cinta yang tiba-tiba memenuhi seluruh tubuhnya.
Ia tahu bahwa anak itu adalah amanah.
Bukan miliknya.
Tidak pernah benar-benar menjadi miliknya.
Seperti sungai yang mengalir di depan rumahnya,ia dapat memandang sungai, menyentuh airnya, bahkan menggantungkan hidup kepadanya, tetapi ia tidak pernah dapat memilikinya.
Begitu pula seorang anak.Ia datang melalui seorang ibu.Tetapi hidupnya adalah perjalanan yang hanya diketahui Tuhan.
Darawati memejamkan mata.
Untuk pertama kalinya malam itu ia tidak meminta apa-apa bagi dirinya.
Ia hanya berdoa:
Ya Allah,Ya Illahi Rabbi…
Jika anak ini memang akan berjalan jauh dariku, berikanlah kepadanya jalan yang baik.
Jika kelak ia memegang kekuasaan, jauhkan hatinya dari kesombongan.
Jika kelak ia memegang pedang, jangan biarkan tangannya dikuasai amarah.
Jika kelak manusia menyebut namanya, jangan biarkan ia lupa menyebut nama-Mu.
Air matanya jatuh ke tikar pandan.
Syekh Hasan menutup kitab.
Ia memandang Darawati.
Matanya tua.Namun jernih.Seperti mata air yang telah melewati padang panjang.
“Anak itu akan lahir malam ini.”
Darawati memandangnya.
“Bagaimana engkau tahu wahai Tuan Guru?”
Syekh Hasan tersenyum.
“Aku tidak tahu masa depan.”
“Lalu?”
“Aku hanya belajar mendengar.”
“Mendengar apa?”
“Doa.”
Darawati terdiam.
“Aku tidak sedang berdoa.”
Syekh Hasan menggeleng.
“Manusia sering mengira doa hanya suara yang keluar dari bibir.”
Ia menunjuk dada Darawati.
“Padahal air mata juga doa.”
Ia menunjuk tangannya.
“Ketabahan juga doa.”
Ia menunjuk perutnya.
“Dan seorang ibu yang mempertaruhkan hidupnya demi kelahiran anaknya… mungkin sedang berdoa dengan seluruh tubuhnya.”
Darawati menunduk.
Kemudian ia berbisik:
“Namanya… Raden Patah.”
Syekh Hasan tidak segera menjawab.
Ia memejamkan mata sejenak.
“Nama itu,” katanya perlahan, “akan berjalan jauh.”
Di luar rumah, angin bergerak dari arah sungai.
Jauh di sana, obor-obor tampak seperti kunang-kunang di sepanjang tepian.
Istana Arya Damar berdiri dalam kegelapan.
Arya Damar belum tidur.Ia duduk seorang diri.Ia adalah seorang adipati Majapahit.Seorang panglima.Seorang lelaki yang terbiasa menghadapi urusan dunia dengan pikiran yang dingin.
Namun malam itu ia merasakan sesuatu yang tidak dapat dijelaskan oleh akal.
Seperti getaran yang datang dari dalam tanah.Seperti ada sesuatu yang sedang berubah.
Ia berdiri.
Memandang ke arah rumah tempat Darawati berada.
Entah mengapa dadanya terasa berat.
Ia tidak tahu bahwa di balik dinding rumah sederhana itu, sebuah kehidupan baru sedang membuka pintu sejarah.
Ia tidak tahu bahwa seorang anak yang belum mengenal dunia kelak akan berjalan jauh dari Palembang.
Ia tidak tahu bahwa jalan anak itu kelak akan bersinggungan dengan Jawa.
Dengan Majapahit.Dengan para wali.Dengan laut.Dengan kekuasaan.Dan dengan lahirnya sebuah zaman baru.
Yang ia tahu hanya satu:
malam itu terasa berbeda.
Di dalam rumah,
Darawati menjerit.
Rasa sakit datang seperti gelombang.
Syekh Hasan bangkit.
Ia membaca Al-Fatihah.
Kemudian Ayat Kursi.
Kemudian doa-doa yang ia hafal sejak masa mudanya.
Suara itu bercampur dengan napas Darawati.Dengan bunyi kayu.Dengan suara air sungai.Dengan detak jantung seorang ibu.
Malam menjadi semakin pekat.
Tetapi justru di dalam kegelapan itulah sesuatu sedang lahir.
Darawati mengejan.
Sekali.
Dua kali.
Kemudian sekali lagi.
Jeritannya membelah rumah.
Membelah malam.
Membelah kesunyian Sungai Musi.
Untuk sesaat angin berhenti.Perahu di bawah rumah terdiam.Permukaan sungai menjadi tenang.Seolah-olah seluruh alam menahan napas.
Lalu,
tangis bayi terdengar.
Satu suara kecil.Tetapi suara itu seperti menembus seluruh kegelapan.
Darawati terkulai.
Syekh Hasan membeku.
Kemudian lelaki tua itu menundukkan kepala.
Air matanya jatuh.
Asisten Perempuan Syeh Hasan yg juga seorang Tabib Mengambil Bayi itu,Bayi itu diletakkan di dada ibunya.
bayi itu Kecil.Merah.Lemah.Sama seperti semua bayi yang baru datang ke dunia.
Tidak ada mahkota di kepalanya.Tidak ada tanda kerajaan.Tidak ada pedang.Tidak ada pasukan.
Hanya napas.Hanya tangis.Hanya kehidupan.
Darawati memandang wajahnya.Dan tiba-tiba seluruh dunia terasa sunyi.
Bayi itu membuka mata.Matanya jernih.
Darawati tersenyum di antara air mata.
“Raden Patah…”Nama itu keluar perlahan.Seperti doa.Seperti janji.Seperti sebuah pintu yang dibuka.
Syekh Hasan mengusap wajahnya.
“Semoga Allah menjadikan hidupnya lebih besar daripada namanya.”
Di luar, Sungai Musi kembali bergerak.
Tidak ada api.Tidak ada kilatan.
Namun airnya memantulkan sesuatu dari langit yang gelap.
Seberkas cahaya tipis dari ufuk timur.Fajar masih jauh.Tetapi sungai seolah sudah mengetahuinya.
Jauh di tengah sungai, sebuah perahu bergerak perlahan.
Di dalamnya duduk seorang lelaki tua berjubah putih.
Ia menatap rumah panggung itu dari kejauhan.
Namanya Syekh Maulana Maghribi.
Ia baru tiba dari perjalanan panjang.
Ia membawa kitab.Ia membawa pengetahuan.Ia membawa cerita dari negeri-negeri jauh.
Tetapi malam itu ia tidak membuka kitab.Ia hanya memandang rumah tersebut.Kemudian ia menengadah ke langit.
Ada sesuatu yang tidak dapat diterangkan oleh kata-kata.
Ia tersenyum.
“Seorang anak telah lahir.”
Orang yang mendayung perahu menoleh.
“Anak siapa, Syekh?”
Maulana Maghribi tidak langsung menjawab.Ia memandang Sungai Musi.
“Sungai tidak pernah membawa air yang sama dua kali.”
Ia berhenti sejenak.
“Begitu pula sejarah.”
Perahu terus bergerak.
“Anak itu akan menyeberang laut.”
“Ke mana?”
“Ke tempat yang belum mengetahuinya.”
“Dan untuk apa?”
Maulana Maghribi memandang ke arah timur.
“Untuk menemukan jalan yang telah lama menunggunya.”
Menjelang pagi, langit berubah warna.
Hitam perlahan menjadi kelabu.Kelabu berubah menjadi biru.Kemudian semburat merah muncul di timur.
Matahari akhirnya terbit.Cahayanya menyentuh Sungai Musi.Menyentuh rumah-rumah panggung.Menyentuh perahu-perahu.Menyentuh hutan.
Dan menyentuh wajah bayi yang tertidur di dada ibunya.
Darawati menatap anaknya.Ia tahu waktu tidak akan membiarkannya menyimpan anak itu selamanya.
Suatu hari anak itu akan pergi.Mungkin ke Jawa.Mungkin lebih jauh.
Suatu hari ia akan meninggalkan rumah ini.Meninggalkan sungai ini.Meninggalkan pelukan ibunya.
Darawati mencium keningnya.
“Kau akan pergi, anakku.”
Air matanya jatuh.
“Pergilah jika jalan memanggilmu.”
Ia memandang Sungai Musi.
“Karena sungai tidak dilahirkan untuk tinggal di satu tempat.”
Ia menatap anaknya kembali.
“Dan manusia pun demikian.”
Bayi itu bergerak kecil dalam tidurnya.
Darawati tersenyum.
“Kau akan menyeberangi laut.”
“Dan mungkin suatu hari manusia akan menyebut namamu.”
Ia menarik napas.
“Tetapi jangan biarkan nama itu membuatmu lupa kepada Tuhan.”
Di kejauhan, perahu Maulana Maghribi telah semakin kecil.
Sungai terus mengalir.
Membawa air.Membawa perahu.Membawa manusia.Membawa cerita.Membawa sejarah.
Sebab sungai memiliki satu rahasia yang hanya dipahami oleh mereka yang mau mendengarkan,
air selalu bergerak, tetapi ingatan tidak pernah benar-benar pergi.
Malam telah berakhir.Seorang bayi telah lahir.Belum ada kerajaan.Belum ada takhta.Belum ada pasukan.Belum ada sejarah yang tertulis tentang dirinya.
Hanya seorang ibu.
Seorang bayi.
Seorang lelaki tua.
Dan sebuah sungai yang terus mengalir menuju laut.
Tetapi kadang-kadang sejarah memang dimulai seperti itu.
Bukan dengan suara genderang.
Bukan dengan pedang yang terhunus.
Bukan dengan mahkota.
Melainkan dengan tangis seorang bayi di tengah malam.
Dan ketika tangis itu terdengar di tepian Sungai Musi, seakan-akan Nusantara sedang menarik napas panjang.
Karena jauh di masa depan, anak itu akan berjalan.
Dari Palembang menuju Jawa.
Dari kesunyian menuju sejarah.
Dari darah menuju amanah.
Dan dari sebuah sungai menuju laut yang tidak pernah selesai mengajarkan manusia tentang perjalanan.
Sungai Musi terus mengalir.
Ia tidak pernah tidur.
Ia akan membawa kisah anak itu menuju laut.
Dan laut akan membawanya menuju zaman.
BERSAMBUNG…