Editorial;
Kelestarian alam tidak hanya ditentukan oleh luasnya kawasan hijau atau indahnya bentang pesisir, tetapi juga oleh kemampuan manusia menjaga kehidupan yang tumbuh di dalamnya. Burung yang terbang bebas di udara, penyu yang kembali ke laut, hingga bakau yang menopang kehidupan pesisir merupakan bagian dari satu kesatuan ekosistem yang saling bergantung. Ketika salah satu unsur terganggu, keseimbangan alam pun ikut terancam.
Kesadaran itulah yang mengemuka dalam kegiatan pelepasliaran burung dan penyu oleh Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail bersama Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen Reda Manthovani di Pantai Boliohuto, Kabupaten Boalemo, Kamis (13/8/2026). Kegiatan ini bukan sekadar mengembalikan satwa ke habitatnya, melainkan juga menjadi ajakan kepada masyarakat untuk melihat perlindungan lingkungan sebagai tanggung jawab bersama.
Di tengah meningkatnya tekanan terhadap ekosistem, pelepasliaran satwa memiliki makna yang lebih luas daripada kegiatan seremonial. Upaya ini mengingatkan bahwa satwa liar bukan sekadar penghuni alam yang dapat dimanfaatkan manusia, tetapi makhluk hidup yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Keberlangsungan hidup mereka bergantung pada kondisi habitat, ketersediaan sumber makanan, serta kemampuan manusia mengurangi berbagai ancaman terhadap alam.
Gusnar Ismail menyoroti pentingnya pelestarian penyu yang semakin sulit ditemukan. Menurutnya, proses penetasan telur penyu di alam menghadapi berbagai tantangan, termasuk ancaman predator seperti biawak. Dalam kondisi tersebut, penangkaran dapat membantu melindungi telur dan tukik pada tahap awal kehidupannya sebelum dilepasliarkan.
“Kita cari yang kecil-kecil itu sudah susah sekali kecuali dibantu oleh manusia sebagai penangkar sehingga dia diamankan. Sebab itu harap maklum kalau Pak Kajati harus cari di Sulawesi Utara, agak jauh dari tempat ini penyu penyu seperti ini tapi sebagian juga ada di Gorontalo,” kata Gusnar.
Pernyataan tersebut menggambarkan tantangan dalam menjaga keberlangsungan populasi penyu. Namun, perlindungan satwa tidak cukup hanya dilakukan dengan mengamankan telur atau membesarkan tukik di tempat penangkaran. Habitat alami tempat satwa berkembang biak juga harus dijaga agar mereka dapat menjalani siklus hidup secara berkelanjutan.
Pantai yang menjadi tempat penyu bertelur, misalnya, membutuhkan lingkungan yang relatif aman dari gangguan manusia. Pencemaran sampah, perubahan kondisi pesisir, kerusakan habitat, dan aktivitas yang mengganggu proses bertelur dapat menjadi ancaman bagi keberlangsungan populasinya. Karena itu, upaya penyelamatan satwa harus disertai perlindungan kawasan pesisir dan pengelolaan lingkungan secara konsisten.
Gorontalo memiliki kepentingan besar untuk menjaga hubungan antara pembangunan dan kelestarian alam. Wilayah pesisir bukan hanya ruang bagi kegiatan ekonomi masyarakat, tetapi juga habitat berbagai jenis satwa dan penopang keseimbangan ekosistem laut. Pembangunan yang mengabaikan daya dukung lingkungan berisiko menimbulkan kerusakan yang pada akhirnya merugikan manusia sendiri.
Gusnar berharap pelestarian lingkungan dapat berjalan seiring dengan pembangunan daerah. Kegiatan di Pantai Boliohuto menjadi salah satu gambaran bahwa agenda pembangunan tidak seharusnya dipisahkan dari upaya menjaga alam. Kemajuan daerah semestinya tidak hanya diukur melalui pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur, tetapi juga melalui kemampuan mempertahankan kualitas lingkungan bagi generasi berikutnya.
Sementara itu, Reda Manthovani menempatkan pelepasliaran satwa sebagai bagian dari pendekatan yang lebih luas untuk menumbuhkan kecintaan terhadap alam. Dalam berbagai kunjungannya ke daerah, ia mengaku kerap melaksanakan kegiatan pelepasliaran burung dan penyu serta penanaman bakau. Baginya, burung, penyu, dan bakau melambangkan unsur udara, air, dan tanah yang saling melengkapi dalam kehidupan.
“Harapannya kepada bapak ibu semua yang hadir lebih bagus lagi kalau ada anak kecil supaya tertanam di memorinya bahwa menjaga atau berempati terhadap sesama makhluk itu adalah pembentukan karakter sehingga kita tidak saling merusak kedepannya,” kata Reda.
Pesan tersebut menempatkan pendidikan lingkungan sebagai investasi karakter. Kepedulian terhadap alam tidak selalu tumbuh hanya melalui pengetahuan tentang pencemaran, perubahan iklim, atau kepunahan satwa. Kepedulian juga dapat dibangun melalui pengalaman langsung: melihat burung kembali ke habitatnya, memahami perjuangan penyu bertahan hidup, atau menyaksikan pentingnya bakau bagi kawasan pesisir.
Pengalaman seperti itu dapat membantu anak-anak memahami bahwa manusia bukan satu-satunya makhluk yang berhak atas ruang hidup di bumi. Satwa dan tumbuhan juga memiliki peran dalam menjaga keseimbangan alam. Dengan mengenalkan nilai empati sejak dini, masyarakat dapat menumbuhkan generasi yang tidak hanya memahami pentingnya lingkungan, tetapi juga terdorong untuk melindunginya melalui tindakan nyata.
Pendidikan lingkungan pun perlu berlanjut setelah kegiatan seremonial selesai. Keluarga, sekolah, komunitas, dan pemerintah daerah dapat mengambil peran melalui kebiasaan sederhana, seperti mengurangi sampah plastik, menjaga kebersihan pantai, melindungi habitat satwa, serta tidak menangkap atau memperjualbelikan satwa liar secara ilegal. Langkah-langkah tersebut akan lebih bermakna apabila menjadi kebiasaan bersama, bukan hanya dilakukan pada momentum tertentu.
Di sisi lain, upaya konservasi memerlukan kerja sama yang berkesinambungan. Pemerintah, masyarakat pesisir, lembaga pendidikan, dan kelompok pemerhati lingkungan perlu membangun kesadaran bahwa perlindungan satwa merupakan bagian dari pengelolaan ekosistem. Penangkaran dan pelepasliaran harus dilakukan dengan memperhatikan kondisi satwa, kesesuaian habitat, serta prinsip konservasi agar benar-benar mendukung kelangsungan populasi.
Pelepasliaran burung dan penyu di Pantai Boliohuto pada akhirnya membawa pesan sederhana, tetapi mendasar: menjaga alam berarti menjaga kehidupan. Burung membutuhkan ruang untuk terbang, penyu membutuhkan pantai dan laut yang aman, sedangkan bakau membutuhkan kawasan tumbuh yang terlindungi. Semua itu tidak dapat dipisahkan dari perilaku manusia dalam memperlakukan lingkungannya.
Pelestarian alam bukan pekerjaan yang selesai ketika satwa dilepaskan atau bibit bakau ditanam. Ia merupakan proses panjang yang menuntut konsistensi, kepedulian, dan perubahan perilaku. Ketika nilai-nilai tersebut ditanamkan sejak dini dan diwujudkan dalam kebijakan serta tindakan sehari-hari, pembangunan dapat bergerak bersama perlindungan lingkungan.
Bagi Gorontalo, menjaga kelestarian pesisir dan satwa liar berarti merawat kekayaan alam sekaligus mempertahankan warisan kehidupan bagi generasi mendatang. Sebab, keberhasilan melindungi alam bukan hanya ditandai oleh satwa yang kembali ke habitatnya, melainkan juga oleh tumbuhnya kesadaran manusia untuk tidak merusak ruang hidup makhluk lain.